KEPULAUAN BANGKA BELITUNG — BMKG Stasiun Klimatologi Jawa Timur mencatat anomali suhu muka laut di Samudera Pasifik timur (Nino 3.4) telah melewati ambang +2 derajat Celsius, angka yang mengindikasikan kekuatan El Nino masuk kategori kuat. Kondisi ini diperparah oleh nilai Indeks Indian Ocean Dipole (IOD) positif di angka 0,63, yang menandakan suplai uap air bergeser dari perairan Indonesia menuju pesisir timur Afrika.
Kombinasi dua fenomena iklim global itu membuat distribusi awan hujan di wilayah Indonesia bagian barat dan tengah berkurang drastis. Akibatnya, durasi hari tanpa hujan di Jatim diprediksi memanjang dan ketersediaan air untuk sektor pertanian serta kebutuhan domestik menurun.
Musim Kemarau Lebih Panjang dan Kering dari Normal
Prakirawan BMKG Stasiun Klimatologi Jatim, Linda Fitrotul, menjelaskan dampak paling nyata dari kondisi ini adalah berkurangnya curah hujan secara signifikan. "Dampak yang perlu diwaspadai adalah berkurangnya curah hujan dan musim kemarau menjadi lebih kering, karena dapat menyebabkan hari tanpa hujan menjadi lebih panjang, meningkatkan potensi kekeringan, berkurangnya ketersediaan air untuk pertanian maupun kebutuhan masyarakat, serta meningkatkan risiko karhutla," kata Linda dalam keterangan resminya, kemarin.
Proyeksi BMKG menunjukkan musim kemarau di Jawa Timur tahun ini tidak hanya lebih kering, tetapi juga berlangsung lebih lama. Periode tanpa hujan diperkirakan berlanjut hingga awal 2027, memperpanjang masa rawan kebakaran di kawasan hutan lindung maupun lahan gambut.
Daerah Rawan dan Aktivitas yang Harus Dihentikan
Menyikapi situasi ini, BMKG mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat untuk menahan diri dari segala bentuk aktivitas yang berpotensi memicu percikan api. Beberapa kebiasaan yang kerap menjadi pemicu karhutla saat kemarau perlu dihentikan, antara lain:
- Membuang puntung rokok di area hutan atau lahan kering.
- Membakar sampah di dekat kawasan vegetasi tanpa pengawasan.
- Melakukan pembukaan lahan atau kebun dengan metode pembakaran.
Imbauan ini dikeluarkan mengingat kawasan Gunung Bromo dan sejumlah titik rawan lainnya di Jatim pernah mengalami kebakaran hebat pada musim kemarau sebelumnya. Kondisi vegetasi yang kering dan angin kencang dapat mempercepat meluasnya api.
Efisiensi Air Menjadi Kunci Hadapi Puncak Kekeringan
Selain risiko kebakaran, BMKG juga menyoroti ancaman krisis air bersih yang membayangi masyarakat. Linda menambahkan, pengelolaan air yang bijak harus dimulai sejak sekarang, bukan menunggu hingga sumur dan sumber mata air mulai mengering. "Kami mengimbau pula supaya masyarakat bijak saat memanfaatkan air," ujarnya.
Pihaknya mendorong pemerintah kabupaten dan kota untuk segera menginventarisasi wilayah rawan kekeringan serta menyiapkan skema distribusi air bersih. Antisipasi dini dinilai krusial untuk mencegah konflik sosial akibat kelangkaan air di musim kemarau panjang.
Dengan prediksi kemarau yang lebih ekstrem ini, koordinasi lintas sektor antara BMKG, BPBD, dan Dinas Kehutanan menjadi prasyarat mutlak. Langkah preventif seperti patroli terpadu dan pembuatan sekat bakar di titik rawan direkomendasikan untuk meminimalkan dampak bencana hingga awal 2027.