PANGKALPINANG — Polresta Pangkalpinang bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan instansi terkait telah menangani 26 kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) selama musim kemarau tahun ini. Kapolresta Pangkalpinang Kombes Pol Indra Wijatmiko menyebutkan penanganan dilakukan sebagai respons cepat menjaga keamanan dan keselamatan masyarakat di ibu kota Provinsi Kepulauan Bangka Belitung tersebut.
Dari total 26 titik api yang berhasil dipadamkan, Kecamatan Bukit Intan menjadi wilayah dengan kasus terbanyak, yakni 14 kejadian. Disusul Kecamatan Pangkalan Baru lima titik, Kecamatan Gerunggang empat titik, serta Kecamatan Taman Sari yang mencatatkan tiga kejadian.
Api Dipadamkan agar Tidak Menjalar ke Permukiman
"Alhamdulillah, kita bersama instansi terkait dan masyarakat berupaya memadamkan karhutla ini agar api tidak membesar dan menyebar ke lahan serta pemukiman masyarakat," kata Indra Wijatmiko saat memimpin Apel Siaga Karhutla di Pangkalpinang, Kamis.
Upaya pemadaman dilakukan secara cepat sejak titik api pertama kali dilaporkan. Polresta Pangkalpinang mengerahkan personel untuk berkoordinasi dengan warga dan perangkat kelurahan guna memastikan api tidak meluas ke area perkebunan maupun kawasan padat penduduk.
Pencegahan Lebih Diutamakan daripada Pemadaman
Menghadapi musim kemarau ekstrem tahun ini, Polresta Pangkalpinang lebih mengedepankan langkah pencegahan dibandingkan pemadaman. Kegiatan sosialisasi, edukasi, dan imbauan kepada masyarakat terus diintensifkan agar tidak ada warga yang membuka lahan dengan cara membakar.
"Kami mengimbau masyarakat tidak membuka lahan dengan cara membakar, karena sangat berisiko terjadi kebakaran yang lebih besar dan kerugian besar yang dialami masyarakat lainnya," tegasnya.
Menurut Indra, pencegahan karhutla jauh lebih baik daripada melakukan pemadaman kebakaran hutan yang dapat mengancam keselamatan jiwa, kesehatan, serta aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat. Musim kemarau yang berkepanjangan membuat lahan kering mudah terbakar, sehingga satu percikan api kecil pun bisa memicu kebakaran luas.
Sinergi TNI-Polri-BPBD hingga RT/RW Diperkuat
Penanggulangan karhutla tidak bisa dibebankan kepada satu instansi saja. Polresta Pangkalpinang memperkuat sinergi dan respons cepat dengan melibatkan personel TNI, BPBD, pemerintah daerah, hingga pengurus RT/RW di seluruh kecamatan.
"Kita terus memperkuat sinergitas dan respons cepat, karena penanggulangan karhutla ini bukan tanggung jawab satu instansi saja tetapi tanggung jawab bersama. Oleh karena itu, diharapkan personel institusi Polri, TNI, BPBD, pemerintah daerah hingga RT/RW untuk memperkuat sinergi dalam mencegah karhutla ini," ujar Kapolresta.
Apel Siaga Karhutla yang digelar Kamis tersebut menjadi bentuk kesiapsiagaan seluruh unsur menghadapi potensi kebakaran lahan di tengah puncak musim kemarau. Masyarakat yang menemukan titik api diminta segera melapor ke aparat terdekat agar penanganan bisa dilakukan lebih cepat sebelum api membesar.