KEPULAUAN BANGKA BELITUNG — Bill Spade bukan nama yang sering muncul di berita politik. Tapi menjelang peringatan 25 tahun serangan 11 September, suaranya justru paling jernih. Pria yang selamat dari reruntuhan Menara Kembar itu berbicara kepada The Hollywood Reporter usai muncul di docuseries terbaru National Geographic, 9/11: Reunited.
Spade adalah satu-satunya anggota FDNY Rescue Company 5 dari Staten Island yang pulang ke rumah pada 11 September 2001. Rekan-rekannya tidak. Ia kini menjadi salah satu suara paling vokal menolak politisasi peringatan tersebut.
Respons atas Serangan Giuliani ke Mamdani
Mantan Wali Kota New York Rudy Giuliani sebelumnya menyerukan agar Wali Kota Zohran Mamdani tidak hadir di upacara Ground Zero. Dalam wawancara di Newsmax, Giuliani menyebut kehadiran Mamdani—wali kota Muslim pertama New York—sebagai hal yang menyinggung perasaannya.
Spade tidak setuju. Ia menegaskan bahwa tugas pemadam kebakaran tidak pernah memandang latar belakang siapa pun.
"Sebagai pemadam kebakaran, kami selalu menerima panggilan, dan jika itu kebakaran, kami masuk ke dalam gedung," kata Spade. "Kami tidak pernah menanyakan warna kulit, kebangsaan, keyakinan, atau afiliasi politik mereka. Kami hanya masuk dan berusaha menyelamatkan nyawa."
Ia menambahkan bahwa hal yang sama berlaku pada 11 September. "Kamu tidak tahu siapa yang kamu selamatkan atau siapa yang kamu bantu, dan itu tidak akan pernah jadi masalah."
Mamdani sendiri sudah memastikan akan hadir di upacara peringatan. Ia menyatakan fokus seharusnya tetap pada keluarga korban dan para first responder yang berusaha menyelamatkan mereka.
"Saya berusaha menjauh dari politik dalam hal ini dan menjadikannya sebagai hari untuk mengenang 2.977 orang," ujar Spade. "Mereka dibunuh. Mereka tidak mati. Mereka dibunuh. Jadi biarkan hari itu untuk mengenang mereka semua, dan jauhkan politik dari ini."
Menyelesaikan Janji 25 Tahun
Bagi Spade, bergabung dengan 9/11: Reunited bukan sekadar proyek dokumenter. Docuseries tiga bagian itu mempertemukan para penyintas dengan orang-orang yang hidupnya terhubung selama serangan terjadi.
Spade punya misi pribadi yang ia pendam hampir 25 tahun: menceritakan momen terakhir ayah mereka kepada dua putra almarhum John D'Allara, petugas NYPD Emergency Service Unit.
Spade dan D'Allara bertemu dalam kegelapan di dalam North Tower. Mereka bekerja sama membantu warga sipil yang terjebak. Hanya sekitar setengah jam mereka saling mengenal, tapi keduanya sempat berbicara soal istri dan anak-anak lelaki mereka yang masih kecil. D'Allara tewas saat menara runtuh.
Beberapa tahun kemudian, Spade bertemu Carol, istri D'Allara, dan menceritakan apa yang terjadi. Tapi anak-anak mereka masih terlalu muda saat itu. Dalam 9/11: Reunited, Spade akhirnya duduk bersama kedua putra D'Allara yang kini sudah dewasa dan menceritakan percakapan terakhir dengan ayah mereka.
"Itu sesuatu yang saya rasa harus saya lakukan," kata Spade. "Selalu ada dalam pikiran saya bahwa saya ingin menceritakan momen terakhir ayah mereka."
Pertemuan itu, menurutnya, mengangkat beban yang ia bawa selama puluhan tahun. Putra sulung D'Allara, John, kini menjadi Marine reservist dan perawat. Adiknya, Nicholas, mengikuti jejak sang ayah masuk NYPD.
Menjaga Cerita Tetap Hidup
Spade telah menceritakan kisahnya setidaknya 500 kali, termasuk dalam lebih dari 300 walking tour. Kini ia menjadi sukarelawan docent di National September 11 Memorial & Museum, tempat ia juga berbicara kepada rekrutan FDNY dan guru-guru yang menyusun kurikulum kelas.
Dua putranya bersekolah di sekolah publik New York. Tapi Spade menyebut observasi formal soal serangan 11 September di sekolah sering kali tidak lebih dari sekadar momen hening.
"Itu benar-benar mengganggu saya, bahwa kita tidak bisa melakukan lebih banyak di sekolah selain mengheningkan cipta," ujarnya. Dengan semakin banyaknya populasi yang lahir setelah serangan, Spade menilai pelestarian kisah-kisah individual jadi semakin mendesak.
Ia mengaku hanya sempat merasakan survivor's guilt sebentar. Alasannya sederhana: meski ia merindukan rekan-rekan Rescue 5, ia akan lebih merindukan keluarganya jika harus mati. Tapi selama bertahun-tahun, ia mengalami mimpi yang sama berulang kali.
"Saya berada di sekolah, dan mereka bermain di luar, semua rekan-rekan itu," kenangnya. "Saya selalu berpikir, 'Hei, saya ingin bermain di luar bersama mereka dan bukan di sini di dalam sekolah.'"
Suatu malam, sahabatnya Mike Fiore—salah satu pemadam Rescue 5 yang tewas hari itu—muncul di jendela. "Dia memberi saya jempol, seperti, 'Kami baik-baik saja,'" kata Spade. Sejak malam itu, mimpi tersebut tidak pernah kembali.
Tahun ini, Spade tidak akan berada di Ground Zero pada Jumat. Ia biasanya menyerahkan upacara itu kepada keluarga korban dan memilih menerima undangan berbicara di tempat lain. Ia akan hadir di memorial pemadam kebakaran di Coppell, Texas, sebelum tampil dalam Behind the Lines: A 9/11 Story, produksi teater keliling di mana ia menuturkan pengalamannya bersama veteran Angkatan Darat Jaymes Poling dan peniup terompet Dominick Farinacci.
Di tengah peringatan seperempat abad yang mudah terseret ke ranah politik, pesan Spade tetap sederhana: kenang mereka yang dibunuh, dan biarkan hari itu jadi milik mereka.