KEPULAUAN BANGKA BELITUNG — Film Safe Exit garapan Mohammed Hammad keluar sebagai pemenang Golden Star untuk kategori best narrative feature di penutupan El Gouna Film Festival edisi kesembilan. Drama psikologis tentang penjaga keamanan Koptik muda di Kairo itu mengalahkan sejumlah judul lain setelah sembilan hari rangkaian pemutaran dan aktivitas industri. Penghargaan bergengsi itu dibagikan dalam malam penutupan yang tersebar ke sejumlah negara Timur Tengah dan sekitarnya.
Kemenangan Safe Exit menjadi sorotan utama. Film ini mengangkat kisah seorang penjaga keamanan Koptik muda di Kairo yang berhadapan dengan trauma akibat kekerasan berlatar agama.
Daftar Pemenang Utama El Gouna Film Festival 2025
Selain Safe Exit, sejumlah film lain juga membawa pulang Golden Star di kategori masing-masing. Berikut daftar lengkapnya:
- Best Narrative Feature: Safe Exit (Mohammed Hammad)
- Best Documentary dan Best Arab Documentary: Citizen Osama (Ahmed Hassouna)
- Best Short Film: Stolen Memories (Anders Davidsen)
- Best Arab Narrative: Yesterday the Eye Didn't Sleep (Rakan Mayasi)
- Best Arab Short: One Day Born (Marie Rose Ousta)
- Best Actress: Rakeen Saad lewat film Boomah
- Best Actor: Jovan Gini? lewat film 3 Weeks After
Citizen Osama menyita perhatian lewat dua kemenangan sekaligus. Film dokumenter ini mengikuti seorang jurnalis foto asal Gaza yang berusaha menyeimbangkan pekerjaan dan kehidupan keluarga di tengah perang.
CineGouna Jadi Pusat Perhatian Industri
Platform industri CineGouna kini jadi salah satu daya tarik utama festival. Sebanyak lebih dari 320 proyek mendaftar ke CineGouna Funding, dengan 19 proyek terpilih menerima total lebih dari 350.000 dolar AS melalui 40 penghargaan.
Peserta juga menjalani lebih dari 140 pertemuan one-on-one dengan perusahaan, institusi, dan festival internasional. Co-founder sekaligus executive director El Gouna, Amr Mansi, menyebut pihaknya ingin menjadikan industri sebagai bintang utama festival.
"We want the industry to be our hero," ujar Mansi kepada Variety sebelum festival berlangsung.
CineGouna kini mencakup Funding, Forum, Market, dan Emerge. Edisi tahun ini juga menghadirkan Egyptian Voices, program pengembangan untuk pembuat film Mesir, serta lab Series perdana untuk proyek televisi Arab.
Televisi Arab Cari Pipeline Pengembangan
Ekspansi CineGouna ke ranah televisi menyoroti persoalan yang lebih luas. Talenta di kawasan Arab melimpah, tetapi peluang untuk mengembangkan dan menjual acara baru masih minim.
Penulis sekaligus produser senior Mesir, Mariam Naoum, yang memimpin lab pengembangan CineGouna Series selama enam pekan, menyebut ada banyak talenta hebat di kawasan ini. Namun menurutnya hanya ada tiga atau empat platform, sehingga kreator harus bersaing untuk mendapatkan saluran yang terbatas.
"Great, great talents," kata Naoum, seraya menyoroti minimnya platform yang tersedia.
Produser dan penulis Haitham Dabbour menambahkan bahwa semakin sedikit platform membuat pembeli semakin berhati-hati. Sutradara Mariam Abou Ouf bahkan menilai bisnis ini mendekati kebuntuan. Enam proyek terpilih di lab perdana itu datang ke El Gouna untuk mempresentasikan serial mereka dan bertemu calon mitra industri.
Sineas Terdampak Konflik Butuh Jaringan Profesional
Perang dan pengungsian masih membentuk lanskap perfilman di dunia Arab. Kondisi itu memengaruhi cerita yang sampai ke layar sekaligus para sineas yang berusaha membangun karier.
Program Safe Harbour MENA yang diluncurkan bersama International Film Festival Rotterdam dan International Emerging Film Talent Association membawa empat sineas yang mengungsi di kawasan tersebut. Mereka mengikuti pelatihan, pengembangan proyek, dan jejaring industri.
Pendekatan program ini bergeser dari sekadar memberi panggung untuk bercerita soal pengungsian menjadi menyediakan koneksi profesional agar sineas bisa terus berkarya. Kemenangan ganda Citizen Osama jadi pengingat nyata: sutradara Ahmed Hassouna masih berada di Gaza.
Sineas Mesir Desak Ruang Kreatif Lebih Luas
Kemenangan Safe Exit terjadi di tengah perbincangan soal industri Mesir yang sedang bertransisi. Produser Mohammad Mashish menyoroti generasi muda yang punya lebih banyak kebebasan dibanding sebelumnya, seiring penonton yang kian terpapar sinema internasional.
Meski begitu, Mashish menilai industri masih butuh waktu lebih untuk pengembangan dan penulisan skenario. Produser-distributor Ziad Srouji merangkum tantangannya dengan singkat.
"Specificity travels, generic does not," ujar Srouji.
Muhammad Mustapha, yang film dokumenternya Big Boys Don't Cry tayang perdana di El Gouna, menyerukan model yang menurunkan risiko finansial sekaligus memberi ruang bagi sineas untuk mengambil risiko artistik lebih besar. Para pembuat film Mesir kian jelas mengarah ke luar, sambil meminta ruang cukup untuk membuat karya yang berakar di rumah sendiri.
Cinema on Wheels Jangkau Kota Lain
Salah satu inisiatif paling berdampak lokal justru berlangsung setelah para tamu festival pulang. Program Cinema on Wheels membawa tiga film pendek dari jajaran tahun ini dalam tur pemutaran gratis melalui Hurghada, Minya, dan sejumlah kota lain.
Langkah itu memperluas jangkauan festival ke luar El Gouna. Bagi industri film Timur Tengah, edisi kesembilan ini menegaskan posisi El Gouna bukan hanya ajang penghargaan, melainkan simpul pendanaan, pengembangan talenta, dan jejaring produksi lintas negara.