Molenku Sayang Liciknya Mereka Hendak Membuang

Daerah35 Dilihat

MAULAN AKLIL atau yang beken dipanggil Molen tinggal hitungan bulan lagi di tahun 2023 ini akan mengakhiri jabatannya sebagai Walikota Pangkalpinang Periode 2018 -2023. Setahun jelang turun tahta dirinya, kebetulan bersamaan dengan “tahun politik” yang diprediksi menjadi tahun  panas  di Nusantara ini.

Panasnya atsmorfer  politik di Kota Beribu Senyuman sudah menghiasi lini-lini kehidupan bermasyarakat, tak terkecuali geliat penggiat media sosial turut membumbui situasi dengan beragam cara.

Masyarakat pun harus pandai-pandai memfilter (menyaring) informasi yang disebarkan. Karena terkadang beragam konten yang disebar sengaja dibuat untuk menjatuhkan kredibilitas musuh politik. Meski konten tersebut tidak sesuai fakta sebenarnya karena dibuat berdasarkan pesanan yang berkepentingan.

Molen, kurang lebih sepuluh tahun terakhir merupakan salah satu figur pemimpin yang mulai diperhitungkan dalam kancah perpolitikan di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel). Bahkan, lima tahun belakangan ini, nama Molen makin moncer dan melekat di hati masyarakat. Sejak dirinya menjabat Walikota Pangkalpinang periode 2018-2023.

Gaya memimpinnya yang apa adanya dan tanpa sekat di tengah-tengah masyarakat, mampu merubah stigma yang selama ini tidak ditemui masyarakat pada sosok pemimpin lain. Sepak terjang Molen yang penuh semangat menata kota tanpa disadari dia makin menaikkan citra, pamor dan kredibilitas dirinya.

Secara tak langsung Molen yang tadinya biasa-biasa saja, menjelma sebagai figur dengan citra positif yang kuat di Bumi Babel. Namanya mampu bersaing dengan figur-figur kawakan di Bumi Laskar Pelangi ini terutama di kancah perpolitikan. Bahkan bisa dibilang Molen mampu melompat meninggalkan banyak tokoh-tokoh yang lebih dulu eksis.

Melesatnya figur dan kredibilitas Molen  di Babel bak meteor. Terjun bebas dari angkasa dengan kecepatan super, lalu menembus atsmosfer bumi, keras menghantam hingga hancur menyerupai kepingan-kepenginan tersebar di semua penjuru sekitarnya jatuh.

Karena itulah, pria dengan gelar akademisi terakhir Doktor (DR) ini diprediksi menjadi kerikil tajam atau batu sandungan yang besar sejumlah orang yang berkepentingan mencapai tujuan politiknya di Pangkalpinang maupun Provinsi Babel pada umumnya.

Tak heran, jelang tahun politik dan menuju akhir masa tugasnya sebagai Walikota Pangkalpiang, nama besar Molen yang begitu mudah melekat di hati masyarakat, menjadi sangat menakutkan dan ancaman serius sebagai figur yang bisa saja menjadi penjegal tujuan politik tokoh-tokoh di sini. Meski Molen sendiri tidak merasakan hal tersebut.

Upaya-upaya masif dan mungkin bisa jadi ada yang terstruktur dari oknum-oknum berkepentingan terus memutar otak dan mengatur strategi bagaimana menenggelamkan nama besar Molen.

Kredibilitasnya yang kuat harus diruntuhkan. Kepercayaan masyarakat kepada dirinya harus dirampas, dan eksistensinya yang bak meteor harus segera dilempar kembali ke orbitnya semula. Sehingga Molen tak lagi bisa memberikan sumbangsih pikiran-pikiran briliannya dalam pembangunan di daerah, tak bisa lagi menjalankan pola kerja gayanya yang disukai rakyat sehingga tak ada celah bagi Molen untuk lebih eksis di jalur politik yang bisa menjadi jembatan mereka merengkuh tujuannya.

Tanda-tanda tersebut sudah sering tersaji dan menjadi konsumsi masyarakat di Babel sejak setahun terakhir. Molen selalu dicari cela agar bisa segera jatuh seterpuruk-terpuruknya. Namun, kembali lagi pada kredibilitas Molen yang begitu kuat dan sudah terbangun kokoh, upaya mengkerdilkan Molen tentu tidak bisa dilakukan instan dan sendiri-sendiri. Molen “wajib” dikeroyok beramai-ramai dengan cara apa pun.

Dan yang masih segar menyeruak di Bumi Babel tentu saja serangan-serangan tendensius tak hanya menyasar pribadi Molen. Namun juga kepada keluarga dan orang-orang dekat Molen baik di pemerintahan maupun di luar pemerintahan.

Tapi sejauh ini upaya-upaya mengeroyok Molen tak kunjung meruntuhkan kredibilitasnya. Terakhir, sebagaimana diketahui soal harta Molen pun diviralkan sampai menjadi sorotan nasional. Lalu difitnah dengan bumbu-bumbu yang super pedas hingga tak sedikit masyarakat termakan hasutan Molen korupsi. Sayangnya upaya tersebut gagal total.

Karena lembaga berwenang dalam hal ini KPK RI menyatakan harta Molen diperoleh dengan cara yang wajar, transaksi bank miliknya tidak ada yang janggal dan semuanya bisa dipertangungjawabkan.

Pamor Molen memang sempat menurun karena masyarakat termakan fitnah kejam terkait itu. Sayangnya, oknum-oknum yang berkepentingan di balik otak-atik harta Molen tidak juga tertawa berlama-lama, alih-alih sampai bisa menyaksikan Molen terjungkal sebelum masa pemerintahannya selesai.

Karena pernyataan KPK saat diberondong pertanyaan media-media nasional terkemuka di Jakarta beberapa hari lalu dengan hasil seperti disebut di atas, bisa menjadi bukti lontaran isu Molen korupsi hanya fitnah. Kredibilitas Molen pun kembali meroket di semua lini kehidupan bermasyarakat. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *