KEPULAUAN BANGKA BELITUNG — Berdasarkan daftar harga yang berlaku per 16 Mei 2026, Pertamina menaikkan harga Pertamax Turbo (RON 98) menjadi Rp 19.900 per liter dari sebelumnya Rp 19.400 per liter. Namun, kenaikan yang paling signifikan terjadi pada lini diesel. Dexlite (CN 51) melonjak menjadi Rp 26.000 per liter, naik Rp 2.400 dari posisi Rp 23.600 per liter. Sementara itu, Pertamina Dex (CN 53) kini dibanderol Rp 27.900 per liter, lebih tinggi Rp 4.000 dibandingkan harga sebelumnya Rp 23.900 per liter.
Untuk produk bensin nonsubsidi seperti Pertamax (RON 92) dan Pertamax Green 95 (RON 95), Pertamina memilih menahan harga. Begitu pula dengan BBM bersubsidi seperti Pertalite (RON 90) dan Solar Subsidi, tidak mengalami perubahan harga.
Tak hanya Pertamina, SPBU swasta juga melakukan penyesuaian serupa. BP-AKR menaikkan harga BP Ultimate Diesel (CN 53) secara drastis menjadi Rp 30.890 per liter dari sebelumnya Rp 25.560 per liter pada pertengahan April 2026. Kenaikan ini mencapai lebih dari Rp 5.000 per liter dalam waktu satu bulan. Namun, harga BBM bensin di jaringan BP-AKR masih bertahan, dengan BP Ultimate dipatok Rp 12.930 per liter dan BP 92 sebesar Rp 12.390 per liter.
Senada dengan itu, SPBU Vivo juga melaporkan kenaikan harga untuk produk diesel. Diesel Primus (CN 51) melonjak menjadi Rp 30.890 per liter dari sebelumnya Rp 14.610 per liter. Sementara itu, harga produk bensin Vivo masih stabil, dengan Revvo 92 (RON 92) dijual Rp 12.390 per liter dan Revvo 95 (RON 95) dipasarkan Rp 12.930 per liter.
Kenaikan harga BBM nonsubsidi ini tidak lepas dari fluktuasi harga minyak mentah di pasar internasional, yang menjadi acuan utama dalam penetapan harga jual eceran. Meskipun Pertamina dan operator swasta memiliki kewenangan untuk menyesuaikan harga secara berkala, lonjakan pada produk diesel dinilai paling terasa karena permintaan yang tinggi dari sektor industri dan transportasi berat.
Kebijakan ini juga mencerminkan mekanisme pasar yang berlaku untuk BBM nonsubsidi, di mana pemerintah tidak memberikan kompensasi atau subsidi seperti pada Pertalite dan Solar Subsidi. Akibatnya, konsumen yang menggunakan produk nonsubsidi harus menanggung langsung beban kenaikan harga minyak dunia.
Kenaikan harga solar nonsubsidi dipastikan akan menekan biaya operasional perusahaan logistik dan angkutan umum yang tidak menggunakan Solar Subsidi. Pengusaha truk dan bus antar kota biasanya bergantung pada Dexlite atau Pertamina Dex untuk menjaga performa mesin. Dengan kenaikan ini, ongkos kirim barang dan tarif angkutan penumpang berpotensi ikut naik dalam waktu dekat.
Bagi pengguna kendaraan pribadi yang memilih BBM beroktan tinggi, seperti Pertamax Turbo, kenaikan Rp 500 per liter mungkin masih terbilang wajar. Namun, akumulasi kenaikan harga sejak awal tahun mulai terasa di kantong konsumen kelas menengah ke atas.