PANGKALPINANG — Sekolah vokasi di Bangka Belitung didorong untuk tak sekadar mencetak lulusan, tetapi juga tenaga kerja terampil yang siap bersaing di pasar internasional. Wakil Ketua I DPRD Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Eddy Iskandar, menyebut peluang kerja ke luar negeri yang dikelola pemerintah pusat saat ini mencapai hampir 300 ribu lapangan pekerjaan.
"Nah, saya pikir peluang seperti ini yang harus kita pikirkan ke depan. Kita bukan hanya menyiapkan anak-anak yang tamat sekolah, tapi memang tenaga kerja terampil yang bisa ditempatkan di mana saja," ujar Eddy saat membuka kegiatan reses DPRD Provinsi Kepulauan Bangka Belitung masa sidang II di SMAN 2 Pangkalpinang, Jumat (15/5/2026).
150 Warga Babel Berangkat Ilegal ke Myanmar
Dorongan terhadap sekolah vokasi ini tak lepas dari temuan di lapangan. Eddy mengungkapkan, masih ada warga Bangka Belitung yang nekat bekerja ke luar negeri melalui jalur ilegal. Ia menyebut, sekitar 150 orang asal Babel terdeteksi berangkat secara ilegal ke Myanmar.
"Kita lihat sendiri di berita, anak-anak kita yang berangkat sendiri melalui jalur ilegal ke Myanmar hampir 150 orang yang terdeteksi dan kami juga ikut membantu memulangkannya," kata Eddy yang juga menjabat sebagai Ketua Fraksi Golkar ini.
Kolaborasi dengan Kementerian P2MI dan Lembaga Penyalur
Eddy mengungkapkan, pihaknya bersama sejumlah pihak sebelumnya telah menggelar pertemuan dengan Kementerian Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI). Pertemuan itu membahas peluang penempatan tenaga kerja ke luar negeri secara legal. Saat ini, sudah ada beberapa lembaga yang menyalurkan tenaga kerja ke Jepang dan negara lainnya secara resmi.
"Penempatan tenaga kerja yang dikelola pemerintah terbuka hampir 300 ribu lapangan pekerjaan," ujar Eddy.
Kurikulum SMK Harus Sesuai Kebutuhan Kerja Global
Menurut Eddy, pendidikan vokasi tak boleh hanya berfokus pada kelulusan siswa. Ia mendorong agar sekolah-sekolah vokasi berkolaborasi dengan pemerintah daerah dan kementerian terkait untuk menyiapkan kurikulum serta pelatihan tambahan bagi siswa yang berminat bekerja di luar negeri.
"Harapnya ke depan ada kolaborasi antara pemerintah daerah, sekolah, dan kementerian untuk menyiapkan kurikulum maupun pelatihan tambahan bagi siswa yang memiliki minat bekerja di luar negeri secara legal dan profesional," katanya.
Dalam kesempatan reses tersebut, Eddy menghadirkan perwakilan dari kementerian terkait untuk memberikan penjelasan langsung mengenai peluang dan mekanisme penempatan kerja luar negeri kepada para peserta reses dan pihak sekolah. Hadir dalam kegiatan itu, Ucok Oktahaber, Rustam Nataris, Hardi, Dody Kusdian, dan Sadiri.