Rupiah Tembus Rp17.813 per Dolar AS, Harga Minyak dan Dolar AS Jadi Biang Kerok

Penulis: Alfian Batubara  •  Senin, 22 Juni 2026 | 12:25:01 WIB
Rupiah melemah ke Rp17.813 per dolar AS di tengah tekanan harga minyak dan penguatan dolar.

KEPULAUAN BANGKA BELITUNG — Pelemahan rupiah terjadi di tengah tekanan eksternal yang kian deras. Harga minyak mentah dunia yang masih bertahan di zona tinggi membuat pelaku pasar khawatir terhadap lonjakan biaya impor dan subsidi energi Indonesia. Di sisi lain, indeks dolar AS (DXY) terus menguat seiring ekspektasi suku bunga tinggi lebih lama di Amerika Serikat.

Harga Minyak dan Dolar AS: Kombinasi Mematikan bagi Rupiah

Dua faktor utama menjadi pemicu pelemahan rupiah hari ini. Pertama, harga minyak mentah Brent masih berkisar di level US$ 85 per barel, mendekati puncak tahun ini. Kenaikan harga minyak secara langsung memperlebar defisit neraca perdagangan Indonesia karena nilai impor migas membengkak. Kedua, indeks dolar AS (DXY) menembus level 106, tertinggi dalam tiga pekan, didorong pernyataan hawkish pejabat The Fed pekan lalu.

“Rupiah berada dalam posisi defensif. Kombinasi harga minyak tinggi dan dolar yang kuat membuat hampir semua mata uang Asia tertekan, tapi rupiah termasuk yang paling rentan karena ketergantungan impor energinya,” ujar analis pasar uang dari sebuah bank asing di Jakarta.

Level Psikologis Rp18.000 Kian Dekat

Pelemahan hari ini membuat rupiah mendekati level psikologis Rp18.000 per dolar AS. Sepanjang Juni 2026, rupiah sudah terdepresiasi sekitar 2,5%. Pasar kini menanti langkah Bank Indonesia (BI) dalam RDG bulan ini—apakah akan kembali mengerek suku bunga acuan atau tetap melakukan intervensi ganda di pasar spot dan DNDF.

Data dari Kementerian Keuangan menunjukkan, beban subsidi energi tahun ini sudah melampaui pagu anggaran. Jika harga minyak tak kunjung turun, tekanan terhadap APBN dan nilai tukar akan semakin berat.

Dampak ke Investor dan Pelaku Bisnis

Bagi importir, terutama yang bergerak di sektor bahan baku dan energi, pelemahan ini langsung menggerus margin. Perusahaan dengan utang dalam dolar AS juga menghadapi beban pembayaran yang lebih besar. Sementara itu, investor di pasar saham mulai mengalihkan portofolio ke aset lindung nilai seperti emas dan obligasi berbasis dolar.

Di pasar saham, IHSG tercatat turun 0,5% pada sesi pertama, dipimpin aksi jual saham-saham sektor konsumen dan infrastruktur yang sensitif terhadap kurs.

Pelaku pasar kini menanti data inflasi AS yang akan dirilis akhir pekan ini. Jika inflasi AS masih tinggi, ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed akan mundur lagi, dan rupiah berpotensi menguji level Rp18.000.

Reporter: Alfian Batubara
Sumber: mediaindonesia.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top