BELITUNG — Dengan canting berisi malam panas, Noni Hidayat menorehkan garis demi garis di atas kain putih di Sentra Kelekak Batik dan Bepulin Batik. Momen ini menjadi simbol komitmennya untuk mendekatkan diri dengan para perajin sekaligus memahami secara langsung tantangan industri batik di Pulau Belitung.
Dalam kunjungan tersebut, Noni mengaku terpesona oleh kekayaan motif yang diangkat menjadi identitas wastra Belitung. Beberapa motif yang menonjol antara lain ikan kepitek, Mercusuar Lengkuas, daun simpur, mentilin, buah karamunting, hingga kembang ketuyut.
“Batik Belitung memiliki karakter yang kuat karena setiap motif memiliki cerita dan identitas daerah. Potensi seperti ini harus terus kita dorong agar semakin dikenal masyarakat luas,” ujar Noni di hadapan para perajin.
Selain batik tulis, kedua rumah produksi itu juga mengembangkan batik cap, batik printing, serta karya ecoprint yang memperkaya ragam wastra khas setempat.
Noni tidak hanya melihat proses produksi. Ia berdialog dengan para perajin mengenai kesulitan bahan baku hingga pemasaran. Sebagai bentuk apresiasi, ia juga membeli sejumlah koleksi batik langsung dari sentra.
“Pemerintah Provinsi melalui perangkat daerah terkait akan terus memberikan pendampingan, mulai dari fasilitasi bantuan pendanaan, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, hingga keikutsertaan dalam berbagai pameran dan expo,” tegasnya.
Sebagai Ketua Dekranasda Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Noni menegaskan bahwa pihaknya akan mendorong para pelaku usaha kerajinan agar naik kelas. Ia menyebut program pendampingan akan difokuskan pada akses permodalan dan pelatihan desain.
Langkah ini dinilai penting untuk menjaga eksistensi batik Belitung di tengah gempuran produk tekstil massal. Dengan motif yang sarat cerita budaya, batik Belitung diyakini memiliki nilai jual tinggi di pasar nasional maupun mancanegara.