JABALIA — Suasana berbeda terasa di Kamp Pengungsi Jabalia, Gaza utara, akhir pekan lalu. Di tengah gempuran dan reruntuhan bangunan, 150 pasangan Palestina menggelar pesta pernikahan massal yang sarat dengan nilai tradisi dan semangat bertahan hidup.
Acara yang berlangsung pada Minggu (28/6) itu dipusatkan di sebuah aula resepsi pernikahan yang baru saja diperbaiki. Meski lokasi acara masih dikelilingi oleh kehancuran akibat serangan militer Israel, warga sekitar tetap larut dalam kegembiraan.
Lagu-lagu tradisional Palestina menggema, diiringi tarian dan arak-arakan perayaan yang melibatkan puluhan keluarga. Momen ini menjadi pelipur lara dan simbol ketahanan masyarakat Gaza di tengah krisis kemanusiaan yang tak kunjung usai.
Pernikahan massal ini bukan sekadar seremoni. Bagi warga Kamp Jabalia, acara ini menjadi bukti bahwa denyut kehidupan dan tradisi tetap berjalan meskipun di bawah tekanan perang. Ratusan pasangan yang menikah sekaligus menandai babak baru dalam hidup mereka di tengah keterbatasan tempat tinggal dan ancaman sehari-hari.
Momen ini juga menjadi ajang berkumpulnya masyarakat yang selama ini terisolasi. Kebersamaan dan solidaritas antarwarga terlihat jelas saat mereka saling membantu menyukseskan acara pernikahan massal tersebut.
Rangkaian foto yang diabadikan oleh kantor berita Xinhua menunjukkan kontras tajam antara kegembiraan para pengantin dengan latar belakang bangunan-bangunan yang hancur. Beberapa foto memperlihatkan pasangan pengantin tersenyum di depan aula yang dindingnya masih retak-retak, sementara anak-anak berlarian di antara puing-puing sambil menyaksikan prosesi.
Tidak ada pernyataan resmi dari otoritas setempat mengenai pendanaan atau penyelenggara acara dalam bahan berita yang diterima. Namun, peristiwa ini menjadi pengingat bahwa di tengah krisis berkepanjangan, masyarakat Palestina terus berupaya mempertahankan tradisi dan martabat mereka.