PANGKALPINANG — Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti memberikan wejangan khusus kepada para wisudawan Universitas Muhammadiyah (Unmuh) Bangka Belitung. Ia meminta mereka untuk tidak menjadi sarjana yang elitis, melainkan intelektual yang menyatu dengan rakyat kecil.
"Saya berharap mahasiswa yang diwisuda hari ini tidak mengidap 'toga syndrome' yang merasa telah selesai belajar hanya karena sudah mengenakan toga," kata Abdul Mu’ti di Pangkalpinang, Kamis.
Empat Tugas Cendekiawan Muslim Versi Mendikdasmen
Dalam orasinya, Abdul Mu’ti mengutip pemikiran Ali Syariati tentang empat tugas utama cendekiawan Muslim. Pertama, memberikan pencerahan melalui ilmu yang dimiliki. Kedua, membumikan Islam yang progresif agar tidak hanya indah dalam kata-kata, tetapi benar-benar menghadirkan rahmat bagi kehidupan.
"Ketiga, menyatu dengan rakyat. Saudara semua adalah kaum intelektual, termasuk kelompok elit. Tetapi jangan menjadi orang yang elitis. Jadilah elit yang dekat dengan rakyat kecil," ujarnya.
Tugas keempat, lanjut Abdul Mu’ti, adalah melawan kejumudan dan kemandekan. Seorang cendekiawan harus berani menjadi pendobrak, bersikap kritis demi kebaikan, dan menawarkan solusi atas berbagai persoalan.
Bersyukur dan Jadi Rahmat bagi Alam Semesta
Mendikdasmen juga mengingatkan para wisudawan untuk senantiasa bersyukur atas capaian akademik yang diraih. Ia mengutip firman Allah yang artinya, "Jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepadamu."
"Saya berpesan kepada wisuda ini untuk selalu bersyukur dan berdedikasi yang membawa manfaat bagi orang lain, karena sebaik-baik manusia adalah manusia yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya," tegas Abdul Mu’ti.
Ia menambahkan, manusia terbaik bukan hanya yang bermanfaat bagi sesama, melainkan yang menjadi rahmat bagi seluruh alam semesta. Oleh karena itu, para sarjana Unmuh Babel didorong untuk menjadi cendekiawan yang mampu memberi manfaat luas.
Jangan Pernah Berhenti Berkarya
Abdul Mu’ti menekankan bahwa setelah diwisuda, para sarjana tidak boleh berhenti berkarya. Ia mendefinisikan cendekiawan sebagai pribadi yang selalu gelisah melihat ada sesuatu yang harus diperbaiki.
"Bukan orang yang hanya menyalahkan kegelapan, melainkan orang yang menyalakan pelita di tengah kegelapan. Oleh karena itu, setelah saudara diwisuda, jangan pernah berhenti berkarya," pesan Mendikdasmen.
Wisuda Ke-17 Unmuh Babel ini menjadi momentum bagi para lulusan untuk memulai pengabdian nyata di tengah masyarakat Kepulauan Bangka Belitung.