PANGKALPINANG — Kawasan Destar Point di Jalan Soekarno Hatta, kompleks terpadu milik Pemkot Pangkalpinang, kini resmi beroperasi sebagai pusat kuliner durian. Destinasi ini dirancang untuk memusatkan pemasaran durian-durian unggulan dari Kabupaten Bangka, Bangka Tengah, Bangka Barat, dan Bangka Selatan.
Wali Kota Pangkalpinang, Saparudin, mengatakan bahwa Destar Point tidak hanya menjadi alternatif destinasi kuliner baru di luar Alun-Alun Taman Merdeka, Bukit Dealova, Wihelmina Park, atau Taman Sari. Lebih dari itu, kawasan ini diharapkan menjadi etalase yang mengenalkan durian lokal ke level nasional dan internasional.
"Kami menjadikan Destar Point ini sebagai destinasi wisata kuliner durian," ujar Saparudin. Ia menyebutkan bahwa durian lokal seperti cumasi dan tembaga memiliki cita rasa yang tidak kalah dengan durian dari Singapura, Malaysia, maupun Thailand.
Pemkot Pangkalpinang menilai selama ini potensi durian lokal belum tergarap maksimal sebagai daya tarik wisata. Padahal, Pulau Bangka memiliki sentra perkebunan durian yang tersebar di empat kabupaten. "Kota Pangkalpinang ini sudah saatnya menjadi pusat pemasaran durian-durian lokal di Kepulauan Babel ini," tegasnya.
Untuk memastikan geliat ekonomi di Destar Point berjalan rutin, Pemkot akan menggelar bazar durian cumasi dan durian lokal lainnya setiap musim panen tiba. Bazar perdana dimulai pada Minggu (5/7) hingga Minggu (12/7) pekan depan.
Saparudin berharap masyarakat Pangkalpinang tidak hanya familiar dengan durian impor, tetapi justru lebih bangga terhadap produk sendiri. "Jangan sampai kita hanya mengenal durian-durian dari negara tetangga tetapi tidak mengenal durian daerah sendiri yang memiliki cita rasa yang lebih enak dibandingkan daerah lainnya," katanya.
Dengan adanya pusat kuliner ini, Pemkot Pangkalpinang juga membuka peluang bagi petani durian lokal untuk memperluas jangkauan pasar. Ke depan, durian cumasi dan tembaga diharapkan mampu bersaing di pasar global sebagai produk khas Bangka Belitung.