KEPULAUAN BANGKA BELITUNG — Emiten Grup Bakrie ini mencatatkan pendapatan Rp 2,59 triliun sepanjang Januari–Juni 2026, naik dari Rp 1,77 triliun pada semester I 2025. Pertumbuhan terjadi di seluruh lini bisnis, dengan segmen infrastruktur dan manufaktur menjadi kontributor terbesar senilai Rp 2,23 triliun atau tumbuh 38,35% secara tahunan (year on year/YoY).
Pendapatan dari jasa pabrikasi dan konstruksi juga meningkat 34,74% menjadi Rp 216,98 miliar. Adapun pendapatan dari perdagangan, jasa, dan investasi melesat 4.536% secara YoY menjadi Rp 142,97 miliar.
Wakil Direktur Utama sekaligus Co-CEO BNBR, A Ardiansyah Bakrie, mengatakan pertumbuhan kinerja ditopang kenaikan pendapatan sejumlah anak usaha. PT Bakrie Indo Infrastructure (BIIN) membukukan pendapatan bersih Rp 626,78 miliar, melonjak 256,1% dibandingkan Rp 176,02 miliar pada periode sama tahun sebelumnya.
Lonjakan ini berasal dari konsolidasi penuh PT Cimanggis Cibitung Tollways (CCT) pada 2026. Sebelumnya, BNBR mengakuisisi 90% saham CCT melalui anak usahanya, PT Bakrie Toll Indonesia (BTI), dalam rangkaian transaksi senilai total Rp 9,4 triliun.
Sementara itu, PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR) Group mencatatkan pendapatan bersih Rp 646,61 miliar, naik 56,2% dari Rp 414,03 miliar. Pertumbuhan ini didorong oleh kenaikan penjualan kendaraan listrik (EV) serta peningkatan penjualan PT Bakrie Autoparts (BA) Group.
PT Bakrie Metal Industries (BMI) Group juga mencatatkan pendapatan bersih Rp 1,3 triliun, tumbuh 10,2%. Kenaikan itu ditopang pertumbuhan pendapatan induk BMI sebesar 37,5%, PT Bakrie Construction (BCons) sebesar 33,6%, dan PT Southeast Asia Pipe Industries (SEAPI) sebesar 15,1%.
Kendati laba usaha dan pendapatan tumbuh signifikan, BNBR masih mencatatkan rugi bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp 224,81 miliar. Angka ini berbalik dari laba bersih Rp 55,87 miliar pada semester I 2025.
Direktur BNBR Roy Hendrajanto M Sakti menjelaskan, penurunan laba bersih terutama disebabkan dampak eksternal berupa kenaikan floating rate terhadap beban bunga PT Cimanggis Cibitung Tollways (CCT). "Khususnya pada tahun-tahun awal setelah akuisisi ketika komponen beban bunga masih relatif tinggi," kata Roy dalam keterangannya, Jumat (28/8).
Beban pokok pendapatan perseroan tercatat naik 40,02% menjadi Rp 1,94 triliun pada periode berjalan. Meski demikian, BNBR membukukan EBITDA positif sebesar Rp 423,04 miliar, melesat 230,93% dibandingkan Rp 127,83 miliar pada semester I 2025.
BNBR baru saja menyelesaikan aksi korporasi penambahan modal dengan hak memesan efek terlebih dahulu (PMHMETD) atau rights issue pada akhir Juli 2026. Perseroan berhasil menghimpun dana segar senilai Rp 4,76 triliun dari aksi korporasi tersebut.
Roy menambahkan, prospek BNBR ke depan tetap ditopang oleh kondisi keuangan yang semakin kuat hingga portofolio infrastruktur strategis. Portofolio tersebut mencakup jalan tol hingga jaringan pipanisasi yang digunakan sebagai sarana transportasi minyak dan gas.
Perseroan juga terus memperluas bisnis ke sektor industri, terutama elektrifikasi transportasi dan energi berkelanjutan melalui VKTR Group. Ekspansi ini sejalan dengan tren adopsi kendaraan listrik di Indonesia yang semakin meningkat, baik untuk transportasi publik maupun komersial.