BELITUNG TIMUR — Setelah aksi unjuk rasa yang mengguncang kawasan pertambangan pada 7 Agustus lalu, para penambang di Kabupaten Belitung Timur kini menuntut adanya jaminan keberlanjutan atas tata niaga timah yang mulai kembali normal. Mereka tidak ingin gelombang keresahan terulang hanya karena kebijakan yang berubah-ubah di tingkat pelaksanaan.
Egi Ariski, seorang penambang asal Desa Gantung, Kecamatan Gantung, menjadi salah satu suara yang lantang menyuarakan persoalan ini. Pekerjaan sebagai penambang adalah sumber utama penghidupannya, sama seperti ratusan keluarga lain di kecamatan tersebut yang hidup dari hasil bumi.
Momentum yang dimaksud Egi merujuk pada aksi penambang yang terjadi sebulan lalu. Meski ia tidak merinci detail aksi tersebut, ia menegaskan bahwa kejadian itu adalah titik balik yang tidak boleh disia-siakan.
Menurutnya, situasi yang kini mulai kondusif adalah hasil dari komunikasi yang terjalin setelah aksi tersebut. Namun, ia mengingatkan bahwa perdamaian tanpa kepastian regulasi hanya akan menjadi ketenangan semu.
"Kami berharap pemerintah benar-benar memperhatikan nasib para penambang. Jangan sampai kesusahan dan keresahan seperti yang terjadi beberapa waktu lalu kembali terulang. Kami ingin bisa bekerja dengan tenang dan mencari nafkah untuk keluarga," ujar Egi akhir pekan lalu.
Bagi para pekerja di lapangan, fluktuasi aturan tata niaga berdampak langsung pada kemampuan mereka memenuhi kebutuhan rumah tangga. Ketidakjelasan prosedur kerap kali membuat aktivitas tambang terhenti mendadak, yang berujung pada hilangnya pendapatan harian.
Egi menyebut bahwa kepastian dalam tata niaga tidak hanya berkaitan dengan izin atau prosedur administrasi. Lebih dari itu, ini menyangkut rasa aman dalam bekerja—sebuah aspek yang sering dilupakan dalam pembahasan kebijakan di tingkat pusat.
"Yang kami harapkan sebenarnya kepastian. Tata niaga berjalan dengan baik, kebijakan konsisten, harga juga diperhatikan, sehingga kami bisa bekerja dengan tenang," katanya.
Selain soal regulasi, Egi secara khusus menyoroti skema harga yang ditetapkan. Ia menilai mekanisme harga saat ini belum sepenuhnya mencerminkan biaya produksi serta risiko tinggi yang dihadapi penambang di lapangan.
"Kami juga berharap PT Timah memperhatikan kesejahteraan penambang dan melakukan evaluasi terhadap harga timah. Harga yang layak tentu sangat berarti bagi kami, karena dari pekerjaan inilah banyak keluarga menggantungkan kehidupan," tuturnya.
Harapan ini datang di tengah kebutuhan untuk menggerakkan kembali roda perekonomian di Gantung dan wilayah sekitarnya. Sektor pertambangan di daerah ini bukan sekadar industri, melainkan denyut nadi ekonomi yang menopang sektor jasa dan perdagangan lokal.
Egi pun menutup dengan pernyataan yang merangkum seluruh keresahan itu: "Harapan kami sederhana, kami bisa bekerja dengan tenang, tata niaga tetap berjalan dengan baik, dan kesejahteraan penambang juga benar-benar diperhatikan."