Sepak bola Prancis berpeluang mengukir sejarah langka dengan mengawinkan gelar Liga Champions putra dan putri pada musim yang sama. Keberhasilan PSG menembus final putra dan Lyon di final putri membuka jalan bagi Les Bleus mengikuti jejak Jerman serta Spanyol.
Dua raksasa Prancis, Paris Saint-Germain (PSG) dan Olympique Lyon, kini berdiri di ambang pencapaian yang belum pernah dirasakan publik sepak bola Prancis sebelumnya. PSG dijadwalkan menantang Arsenal di final putra, sementara Lyon akan berhadapan dengan Barcelona pada partai puncak kategori putri.
Kondisi ini menempatkan Prancis dalam posisi istimewa untuk meraih dua trofi paling bergengsi di Eropa secara bersamaan. Jika keduanya menang, Prancis bakal menjadi negara ketiga yang sukses mencatatkan double Champions League setelah Jerman pada 2013 dan Spanyol pada 2024 lalu.
Ambisi PSG Menjaga Status Penguasa Benua Biru
PSG datang ke partai final musim ini dengan status sebagai juara bertahan. Setelah sukses mengangkat trofi pada 2025, Les Parisiens bertekad mengukuhkan dominasi mereka di Eropa dengan meraih gelar back-to-back yang akan menyamai level klub-klub elite sejarah.
Keberhasilan PSG tahun lalu merupakan titik balik besar bagi sepak bola Prancis. Mereka menjadi tim pertama dari Ligue 1 yang menjuarai kompetisi ini sejak Marseille melakukannya pada 1993 silam. Kini, satu kemenangan lagi akan menempatkan skuad asuhan Luis Enrique di jajaran kekuatan utama sepak bola modern.
Meskipun tim putri PSG gagal berbicara banyak musim ini setelah tersingkir di fase liga, beban sejarah kini sepenuhnya berpindah ke pundak tim putra untuk menjaga konsistensi prestasi di panggung internasional.
Lyon Bertekad Rebut Kembali Takhta dari Barcelona
Di sektor putri, Olympique Lyon tetap menjadi kiblat dengan koleksi delapan gelar juara. Setelah terakhir kali mengangkat trofi pada 2022, Lyon kembali ke final dengan misi besar untuk meruntuhkan dominasi Barcelona yang sangat kuat dalam beberapa tahun terakhir.
Lyon memastikan tiket final setelah melewati laga dramatis melawan Arsenal di semifinal. Sempat tertinggal 1-2 pada leg pertama di kandang sendiri, tim asuhan Sonia Bompastor menunjukkan mentalitas juara untuk membalikkan keadaan dan memastikan diri tampil di partai puncak.
Persaingan Lyon dan Barcelona telah menjadi warna utama sepak bola putri Eropa dalam satu dekade terakhir. Antara 2016 hingga 2024, hanya dua klub ini yang bergantian menjadi juara sebelum tren tersebut sempat dipatahkan oleh Arsenal pada musim lalu.
Menanti Catatan Emas Ketiga dalam Sejarah Eropa
Prancis sebenarnya pernah hampir mencapai rekor ini pada tahun 2020. Saat itu, kedua wakil mereka juga berhasil menembus final di musim yang sama, namun dengan hasil yang berbeda di akhir cerita.
Pada 2020, tim putra PSG harus puas menjadi runner-up setelah kalah tipis 0-1 dari Bayern Munich. Sebaliknya, tim putri Lyon sukses menjalankan tugasnya dengan mengalahkan Wolfsburg 3-1 untuk meraih gelar kelima mereka secara beruntun kala itu.
Kini, dengan performa PSG yang sedang di puncak dan Lyon yang kembali menemukan sentuhan terbaiknya, peluang untuk menyapu bersih dua trofi Eropa bukan lagi sekadar impian. Keberhasilan ini nantinya akan menjadi pernyataan tegas mengenai kekuatan kolektif sepak bola Prancis di kancah dunia.