PANGKALPINANG — Komisariat Daerah Pemuda Katolik Bangka Belitung dipercaya menjadi tuan rumah penyelenggaraan KKL I Tahun 2026. Ratusan peserta yang telah lolos seleksi ketat, termasuk melalui penyusunan makalah sesuai silabus, akan berkumpul di Hotel Grand Safran selama empat hari ke depan.
Mengapa Kader Muda Harus Masuk ke Sektor Ekonomi Daerah?
Ketua Umum PP Pemuda Katolik, Stefanus Gusma, menekankan bahwa daerah saat ini menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru. Menurutnya, anak muda tidak bisa lagi hanya menjadi penonton, melainkan harus menjadi mitra strategis pemerintah dalam mengawal pembangunan.
“Daerah memiliki potensi besar untuk tumbuh melalui sektor pariwisata, ekonomi kreatif, UMKM, hingga investasi hijau. Pemuda Katolik harus hadir sebagai mitra strategis pemerintah dalam mengawal pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan,” ungkap Gusma, Rabu (13/5/2026).
Tema KKL: Kepemimpinan Inklusif dan Kolaboratif
Mengusung tema “Kepemimpinan Inklusif dan Kolaboratif dalam Mengawal Pembangunan dan Akselerasi Ekonomi Daerah yang Berkelanjutan”, KKL I ini tidak sekadar forum diskusi. Para peserta dituntut mampu membaca peluang pembangunan yang berkembang di wilayah masing-masing, khususnya di Babel yang kaya akan sumber daya alam dan destinasi wisata.
Pemuda Katolik diharapkan bisa menjadi jembatan antara masyarakat dan pemerintah dalam mengelola potensi lokal. Sektor green economy atau ekonomi hijau menjadi salah satu sorotan utama, sejalan dengan tren investasi berkelanjutan yang mulai digandrungi di Indonesia.
Pangkalpinang Jadi Pusat Perhatian Kader Muda Nasional
Pemilihan Pangkalpinang sebagai tuan rumah dinilai strategis. Selain untuk memperkenalkan potensi wisata dan budaya Babel kepada kader dari luar daerah, kegiatan ini juga menjadi ajang memperkuat jejaring kepemimpinan lintas daerah. Selama empat hari, peserta akan mengikuti serangkaian agenda yang dirancang untuk mengasah kemampuan analisis dan aksi nyata di lapangan.
Komda Pemuda Katolik Bangka Belitung berharap kegiatan ini bisa meninggalkan dampak jangka panjang, tidak hanya bagi peserta, tetapi juga bagi perekonomian lokal selama penyelenggaraan berlangsung.