MENTOK — Kolam retensi di Kampung Teluk Rubiah, Mentok, kembali diisi kehidupan. Polres Bangka Barat bersama Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) dan warga setempat menebar ribuan benih nila air payau pada Kamis lalu. Kegiatan ini menjadi rangkaian Hari Bhayangkara ke-80 yang mengusung tema pengabdian nyata, bukan sekadar seremoni.
Dari Seremoni ke Aksi: Polri Turun ke Tambak
Kapolres Bangka Barat AKBP Pradana Aditya Nugraha memimpin langsung penebaran benih. Ia menyebut aksi ini sebagai wujud nyata kepedulian institusi terhadap lingkungan dan ketahanan pangan lokal.
"Dalam rangkaian kegiatan ulang tahun ke-80 Bhayangkara ini kita juga ingin membantu masyarakat dan daerah dalam menguatkan ketahanan pangan lokal," ujar Pradana di Mentok.
Kolaborasi dengan HNSI dan warga sekitar, menurut dia, menjadi kunci agar program ini berkelanjutan. Bukan hanya soal menjaga keamanan, Polri juga hadir dalam pembangunan dan pelestarian lingkungan.
Nila Air Payau: Potensi Ekonomi yang Terlupakan
Kepala Bidang Budidaya Dinas Perikanan Bangka Barat, Dodi Sihono, mengapresiasi langkah Polres. Ia menilai ikan nila air payau punya prospek cerah karena harga jualnya stabil dan didukung sumber daya alam setempat.
"Selama ini kita terus melakukan pendampingan terhadap kelompok pelaku usaha budidaya perikanan, baik budidaya ikan air tawar, air payau maupun yang di laut," kata Dodi.
Menariknya, nila air payau tak hanya dikembangkan sebagai komoditas pangan. Dodi mengungkapkan bahwa para petambak udang di Bangka Barat memanfaatkan ikan ini sebagai indikator alami kualitas air tambak mereka. Jika nila stres, itu tanda ada masalah pada parameter air.
Produksi Ikan Air Payau Mendominasi di Bangka Barat
Data Dinas Perikanan setempat menunjukkan dominasi perikanan air payau di wilayah ini. Sepanjang 2025, total produksi budidaya perikanan di Bangka Barat mencapai 1.685,61 ton untuk ikan air payau, jauh melampaui ikan air tawar yang hanya 170,71 ton dan ikan laut 10,66 ton.
Khusus untuk ikan nila, produksinya tercatat 33,62 ton dalam setahun terakhir. Angka ini dinilai masih bisa ditingkatkan dengan perluasan area budidaya dan pendampingan teknis dari pemerintah daerah.
Kolam Retensi: Antara Konservasi dan Lumbung Pangan Warga
Kolam Retensi Kampung Teluk Rubiah selama ini berfungsi ganda: sebagai kawasan konservasi lingkungan sekaligus sumber penghidupan warga. Dengan tambahan 5.000 benih nila, kolam ini diharapkan tidak hanya menjadi tempat penampungan air, tetapi juga lumbung pangan yang menghidupi warga pesisir.
Polres Bangka Barat berkomitmen untuk terus mendampingi kelompok budidaya di lokasi ini. Program serupa direncanakan berlanjut ke desa-desa lain di Bangka Barat yang memiliki potensi perairan payau.