PANGKALPINANG — Ancaman karhutla di Babel tak bisa dianggap enteng. Sepanjang Juni 2026 saja, Pusdalops BPBD mencatat delapan kejadian kebakaran yang menghanguskan 16 hektare lahan di Kabupaten Belitung dan Belitung Timur.
Pemicunya klasik: warga membakar sampah atau membersihkan lahan perkebunan, lalu api merambat tak terkendali ke kawasan hutan.
200 Personel Disiagakan, Patroli 24 Jam
"Saat ini seluruh TRC siaga penuh selama 24 jam untuk mengantisipasi dan penanganan karhutla ini," kata Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Provinsi Kepulauan Babel, Sandy Aji, di Pangkalpinang, Selasa.
Ratusan personel itu tersebar di tujuh daerah: Kabupaten Bangka, Bangka Barat, Bangka Tengah, Bangka Selatan, Belitung, Belitung Timur, dan Kota Pangkalpinang. Rinciannya, 48 personel dari TRC BPBD provinsi, 101 personel dari BPBD Kota Pangkalpinang, 15 personel dari BPBD Bangka, dan sisanya dari kabupaten lain. Dua unit mobil pemadam kebakaran juga disiagakan.
Edukasi Jadi Benteng Pertama
Tugas utama TRC bukan hanya memadamkan api. Mereka juga turun ke lapangan mengedukasi warga agar tidak membuka lahan dengan cara dibakar. Langkah ini dinilai lebih efektif untuk menekan jumlah titik api sejak dini.
"Ratusan TRC ini bersiaga dan melakukan patrol serta mengedukasi warga untuk tidak membuka lahan perkebunan dengan cara membakar, guna mengurangi titik api," ujar Sandy.
Pemprov Hanya Suplai, Eksekusi di Daerah
BPBD provinsi mengaku perannya lebih sebagai pendukung. Urusan pemadaman dan penanganan langsung di lapangan tetap berada di tangan BPBD kabupaten dan kota. "Kami hanya bersifat mendukung dan mensuplai kebutuhan TRC di kabupaten dan kota dalam penanganan kebakaran ini," kata Sandy.
Untuk memperkuat respons, BPBD provinsi juga berkoordinasi dengan Dinas Kebakaran, Dinas Sosial, Dinas Lingkungan Hidup, Polri, TNI, dan Satpol PP. Sinergi lintas sektor ini diharapkan bisa mencegah meluasnya karhutla yang biasanya mencapai puncak pada Agustus-September.
Data Pusdalops menunjukkan, dari delapan kejadian di Belitung dan Belitung Timur, sebagian besar dipicu aktivitas warga yang membakar sampah rumah tangga. Api kemudian menjalar ke semak belukar dan hutan di sekitarnya.