TANJUNGPANDAN — Puluhan peserta Diklat Calon Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Capaska) Kabupaten Belitung Tahun 2026 mendapat materi khusus dari Detasemen Khusus (Densus) 88 Anti Teror Polri. Materi yang diberikan menitikberatkan pada penguatan wawasan kebangsaan dan ketahanan digital di tengah derasnya arus informasi.
Ketua Tim Idensos Cegah Satgaswil Bangka Belitung Densus 88 AT Polri, Ipda Hariyadi, menegaskan bahwa generasi muda merupakan sasaran strategis penyebaran paham radikal. Ia menyebut transformasi pola penyebaran saat ini tidak lagi melalui kontak langsung, melainkan memanfaatkan celah teknologi informasi.
Ancaman Radikalisme Kini Menyasar Ruang Digital Pelajar
"Paham intoleran, radikalisme, ekstremisme, dan terorisme merupakan ancaman nyata yang dapat mengganggu persatuan, keamanan, dan stabilitas nasional," kata Ipda Hariyadi di Tanjungpandan, Belitung, Kamis (6/8).
Menurutnya, platform media sosial menjadi ladang baru bagi penyebar paham sesat untuk menjangkau korban yang lebih luas. Para pelajar yang aktif berinteraksi di dunia maya dinilai paling rentan terpapar narasi ujaran kebencian dan hoaks yang bertentangan dengan ideologi Pancasila.
Oleh sebab itu, anggota Capaska yang merupakan representasi pemuda berprestasi diminta memiliki kemampuan berpikir kritis. Mereka diingatkan untuk tidak mudah terprovokasi oleh konten-konten negatif yang beredar.
Capaska Didorong Jadi Agen Perubahan di Tengah Masyarakat
"Setiap individu harus memiliki kemampuan berpikir kritis, bijak menerima informasi, serta tidak mudah terprovokasi oleh narasi ujaran kebencian, berita bohong (hoaks), maupun ajakan yang bertentangan dengan ideologi Pancasila dan nilai-nilai kebangsaan," ujarnya.
Melalui sosialisasi ini, para peserta diharapkan mampu mengenali indikator dan ciri-ciri awal penyebaran paham IRET. Dengan begitu, mereka dapat melakukan deteksi dini terhadap potensi ancaman di lingkungan sekolah maupun tempat tinggal masing-masing.
Lebih jauh, Ipda Hariyadi mendorong para calon paskibraka untuk berperan aktif sebagai agen perubahan. Mereka diminta memperkuat nilai moderasi beragama, toleransi, dan rasa cinta tanah air di tengah pergaulan sehari-hari.
Sinergi Multisektor Kunci Jaga Kondusivitas Belitung
Ipda Hariyadi menekankan bahwa upaya pencegahan terorisme tidak bisa berjalan sendiri. Dibutuhkan sinergi yang kokoh antara pemerintah, aparat keamanan, tokoh agama, tokoh masyarakat, dunia pendidikan, hingga lingkungan keluarga untuk mewujudkan lingkungan yang aman dan harmonis.
"Masyarakat jangan ragu untuk melapor apabila menemukan indikasi penyebaran paham yang mengarah pada tindakan intoleran, radikal, ekstrem, maupun terorisme. Pencegahan paham IRET merupakan tanggung jawab bersama," tegasnya.
Ia juga mengajak seluruh elemen masyarakat di Belitung untuk bersama-sama menjaga kondusifitas wilayah. Meningkatkan kepedulian lingkungan serta memperkuat jalur komunikasi dengan aparat pemerintah dan aparat keamanan menjadi langkah preventif yang dinilai efektif.