PANGKALPINANG — Warga Pulau Rengit, Kabupaten Belitung, akhirnya menikmati pasokan listrik selama 24 jam penuh setelah Green Energy Ecosystem Technopark (GEET) mulai beroperasi. Proyek ini tidak hanya menerangi rumah-rumah warga, tetapi juga menjadi motor penggerak bagi kegiatan ekonomi masyarakat kepulauan yang sebelumnya terkendala keterbatasan energi.
Gubernur Kepulauan Bangka Belitung Hidayat Arsani menegaskan bahwa kehadiran GEET bukan sekadar pembangunan infrastruktur kelistrikan biasa. Ia menyebut proyek ini sebagai langkah nyata dalam menghadirkan energi bersih sekaligus jawaban atas tantangan pemenuhan listrik di pulau-pulau kecil yang tersebar di wilayah provinsi tersebut.
"Bagi kami, ini bukan sekadar pembangunan infrastruktur kelistrikan, tetapi sebagai langkah nyata menghadirkan energi bersih di wilayah kepulauan, sekaligus menjawab tantangan pemenuhan energi di pulau-pulau kecil," ujar Hidayat Arsani di Pangkalpinang, Minggu.
Teknologi Terintegrasi dalam Satu Ekosistem
GEET Pulau Rengit dirancang dengan mengintegrasikan beragam teknologi pembangkit listrik ramah lingkungan. Beberapa di antaranya adalah pembangkit listrik tenaga surya (PLTS), sistem penyimpanan energi, turbin angin, hingga teknologi hidrogen hijau dan fuel cell.
Konsep agrovoltaic juga diterapkan dalam ekosistem ini, di mana panel surya dipadukan dengan pemanfaatan lahan produktif. Sistem manajemen energi terpadu memastikan seluruh komponen tersebut bekerja secara optimal untuk melayani kebutuhan listrik warga.
"Ekosistem GEET di Pulau Rengit ini menjadi contoh pemanfaatan teknologi energi bersih yang dapat dikembangkan secara nyata di wilayah kepulauan," tambahnya.
Dampak Langsung bagi Nelayan dan Ekonomi Warga
Manfaat kehadiran listrik 24 jam langsung dirasakan oleh masyarakat setempat. Para nelayan kini dapat memanfaatkan fasilitas cold storage untuk menjaga kesegaran hasil tangkapan, sebuah kemudahan yang sebelumnya sulit diwujudkan akibat pasokan listrik yang tidak stabil.
Selain itu, konsep agrovoltaic membuka peluang bagi warga untuk mengoptimalkan lahan yang ada di sekitar area pembangkit. Hal ini sejalan dengan harapan agar energi bersih tidak hanya menyelesaikan persoalan penerangan, tetapi juga meningkatkan nilai tambah ekonomi masyarakat Pulau Rengit.
Direktur Teknologi, Engineering dan Keberlanjutan PT PLN (Persero) Edwin Nugraha Putra menyatakan keyakinannya bahwa pembangunan energi hijau ini memiliki dampak yang lebih luas. "Kami berharap energi bersih tidak hanya menyelesaikan persoalan kelistrikan, tetapi juga menjadi penggerak aktivitas ekonomi dan peningkatan nilai tambah bagi masyarakat Pulau Rengit," katanya.
Penguatan Ketahanan Energi Nasional dari Wilayah 3T
Langkah kolaborasi antara pemerintah daerah dan PLN ini mendapat apresiasi dari tingkat nasional. Anggota Dewan Energi Nasional RI, Sripeni Inten Cahyani, menilai proyek di Pulau Rengit menjadi bukti nyata bagaimana ketahanan energi di daerah, khususnya wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T), dapat berkontribusi pada ketahanan energi nasional.
"Ini menjadi contoh nyata bagaimana ketahanan energi daerah dapat mendukung ketahanan energi nasional," ujarnya.
Keberhasilan GEET Pulau Rengit diharapkan menjadi model yang dapat direplikasi di pulau-pulau kecil lainnya di Kepulauan Bangka Belitung. Dengan begitu, pemerataan akses energi bersih tidak hanya berhenti di satu titik, tetapi menyebar untuk mendorong pertumbuhan ekonomi di seluruh gugusan kepulauan.