KEPULAUAN BANGKA BELITUNG — Desa Adat Sade, kampung berusia sekitar 600 tahun yang menjadi ikon budaya Suku Sasak di Pulau Lombok, kini berubah menjadi puing. Kebakaran yang melanda kawasan yang berjarak sekitar 10 km dari Bandara Internasional Zainuddin Abdul Madjid itu menyisakan duka mendalam bagi 120 kepala keluarga yang kehilangan segalanya dalam hitungan jam.
320 Jiwa Kehilangan Tempat Tinggal dan Sumber Penghidupan
Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah mencatat sekitar 320 jiwa terdampak langsung dalam musibah ini. Mereka kehilangan rumah, barang berharga, hingga peralatan menenun yang menjadi sumber pendapatan utama.
Sebelum tragedi ini, Sade dihuni sekitar 700 orang yang masih terikat dalam satu garis keturunan. Dari total 200 rumah adat yang berdiri, sebagian besar kini ludes dilalap si jago merah.
Material Tradisional Membuat Api Menjalar Cepat
Konstruksi rumah adat Sade yang otentik justru menjadi faktor utama cepatnya api merambat. Dinding dari anyaman bambu (bedek), tiang kayu, dan atap alang-alang adalah kombinasi material yang sangat mudah terbakar.
Warga bernama Amaq Imi mengungkapkan api muncul secara tiba-tiba ketika sebagian warga sedang beristirahat malam. Kondisi ini membuat banyak penghuni tidak sempat menyelamatkan barang-barang berharga mereka.
"Api datang mendadak, banyak barang yang tidak sempat diselamatkan," ujarnya.
Kain Tenun Khas Sasak dan Fasilitas Umum Ikut Hangus
Kerugian terbesar yang dirasakan warga adalah hilangnya stok kain tenun khas Sasak yang menjadi komoditas utama penjualan kepada wisatawan. Rumah-rumah di kampung adat ini memang berfungsi ganda sebagai tempat tinggal sekaligus galeri dan gerai suvenir.
Tak hanya rumah warga, api juga melalap masjid, museum yang menyimpan benda-benda budaya, serta lapak UMKM yang menjadi penopang ekonomi masyarakat setempat.
Warisan Budaya Nenek Moyang Terancam Punah
Kebakaran ini bukan sekadar bencana material. Sade adalah living museum yang menjaga tradisi menenun (nyesek), menyimpan artefak budaya, dan menjadi tempat pewarisan pengetahuan serta cerita leluhur dari generasi ke generasi.
Hilangnya bangunan-bangunan adat ini berarti terkikisnya salah satu benteng terakhir kebudayaan Sasak yang masih hidup di tengah arus modernisasi kawasan Mandalika.
Penyebab Kebakaran Masih Diselidiki
Hingga berita ini diturunkan, penyebab pasti kebakaran belum diketahui. Pihak kepolisian setempat masih melakukan penyelidikan di lokasi kejadian untuk mengungkap asal mula api.
Bagi wisatawan yang berencana berkunjung ke Lombok Tengah, kondisi terkini Desa Adat Sade dapat dikonfirmasi melalui Dinas Pariwisata Kabupaten Lombok Tengah atau pemerintah desa setempat sebelum menyusun itinerary kunjungan ke destinasi budaya ini.