KEPULAUAN BANGKA BELITUNG — PT Profesional Telekomunikasi Indonesia (Protelindo) menjadi pemegang saham terbesar di antara entitas Grup Djarum dengan mengantongi 4,84 miliar saham atau setara 10,86% kepemilikan di BTEL. Sisanya tersebar di lima perusahaan afiliasi lain dengan total kepemilikan gabungan mencapai 15,8% dari 44,64 miliar saham yang kini tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Enam Entitas Djarum Masuk, Total Saham BTEL Membengkak
Konversi OWK ini menambah porsi saham BTEL yang semula berjumlah 38,33 miliar menjadi 44,64 miliar saham. Berikut rincian kepemilikan enam entitas Grup Djarum:
- PT Profesional Telekomunikasi Indonesia — 4,84 miliar saham
- PT Solusi Tunas Pratama Tbk (SUPR) — 888,12 juta saham
- PT Inti Bangun Sejahtera Tbk (IBST) — 250,80 juta saham
- PT Reka Jasa Akses — 247,49 juta saham
- PT Komet Infra Nusantara — 47,35 juta saham
- PT Sarana Inti Persada — 35,50 juta saham
Seluruh konversi dilakukan serentak pada 20 Agustus 2026 dengan harga pelaksanaan Rp 200 per saham. Padahal, saham BTEL telah disuspensi BEI sejak 27 Mei 2019 di level Rp 50, menyusul opini audit disclaimer untuk laporan keuangan 2017 dan 2018.
BTEL Terancam Delisting, Manajemen Klaim Kinerja Membaik
Masuknya Grup Djarum terjadi di tengah tekanan besar yang membayangi BTEL. BEI telah mengumumkan potensi penghapusan pencatatan saham emiten telekomunikasi tersebut jika tidak kunjung memenuhi ketentuan bursa.
Corporate Secretary Bakrie Telecom, Purwoko Suatmadji, menyatakan perseroan terus berupaya memperbaiki kinerja keuangan. Ia menegaskan laporan keuangan BTEL sejak periode 30 September 2020 hingga tahun buku Desember 2024 seluruhnya telah memperoleh opini Wajar Dengan Pengecualian (WDP) dari auditor.
Perbaikan opini audit tersebut menjadi modal utama BTEL untuk membantah rencana delisting. Namun hingga saat ini, BEI belum mencabut suspensi perdagangan saham yang sudah berjalan lebih dari tujuh tahun.
Apa Arti Masuknya Djarum bagi Pemegang Saham BTEL?
Masifnya konversi OWK oleh Grup Djarum berpotensi mengubah lanskap kepemilikan BTEL secara signifikan. Dengan kepemilikan 15,8%, konglomerasi milik keluarga Hartono ini berpeluang besar masuk jajaran pemegang saham pengendali baru.
Bagi investor publik, langkah ini bisa menjadi sinyal positif bahwa ada investor kuat yang bersedia menopang BTEL. Namun perlu dicermati, dilusi saham akibat penerbitan 6,31 miliar saham baru otomatis menurunkan persentase kepemilikan pemegang saham lama yang tidak ikut konversi.
Harga konversi Rp 200 per saham juga jauh di atas harga pasar terakhir Rp 50, menunjukkan keyakinan Grup Djarum terhadap nilai aset menara dan bisnis telekomunikasi BTEL dalam jangka panjang.
Skema OWK dan Strategi Ekspansi Menara Djarum
Masuknya entitas menara telekomunikasi milik Grup Djarum melalui mekanisme OWK bukan tanpa perhitungan. Protelindo, SUPR, dan IBST merupakan pemain utama infrastruktur telekomunikasi yang selama ini agresif berekspansi melalui akuisisi aset.
Dengan mengonversi utang menjadi saham, Grup Djarum tidak hanya memperkuat posisi di BTEL tetapi juga mengamankan aset menara yang selama ini menjadi jaminan. Strategi serupa kerap digunakan pemain industri menara untuk mengkonsolidasikan kepemilikan di tengah perlambatan organik.
Keputusan BEI terkait nasib BTEL akan menjadi penentu berikutnya. Jika delisting tetap dieksekusi, kepemilikan saham Grup Djarum di perusahaan tertutup akan semakin sulit direalisasikan. Sebaliknya, jika BTEL berhasil pulih dan kembali diperdagangkan, valuasi sahamnya bisa berubah drastis dari level Rp 50.