PANGKALPINANG — Ketiadaan gedung kesenian yang layak disebut bukan persoalan baru bagi pegiat teater di Pulau Bangka. Gedung serbaguna milik pemerintah dinilai kerap tak memenuhi standar teknis pertunjukan, terutama dari sisi tata cahaya dan akustik, sehingga ruang berkesenian yang nyaman mesti dicari sendiri oleh para seniman.
Kondisi itu memaksa kelompok teater di tiga wilayah — Mentok, Sungailiat, dan Pangkalpinang — beradaptasi dengan cara masing-masing. Panggung sekolah, halaman rumah, hingga ruang publik sederhana menjadi tempat mereka mementaskan karya.
Jejak Panjang Teater dari Mentok hingga Pangkalpinang
Historiografi teater Bangka bisa ditelusuri sejak akhir dekade 1980-an. Di Mentok, H. Mochtar Lubis Ajmain bersama Sanggar Panglima Angin meramu tari, musik, dan sandiwara berbasis cerita rakyat serta mitos lokal seperti Raja Pekak dan Putri Gunung Menumbing.
Pertunjukan era itu dirancang ramah publik. Teater menjadi medium hiburan sekaligus penjaga memori kolektif warga.
Memasuki awal 1990-an, teater sekolah tumbuh di Sungailiat. Gedung Juang menjadi titik temu para pelajar yang tergabung dalam Teater Sukma, gabungan teater lintas pelajar. Nama Ira Esmeralda, Agus, dan Jaka Filyama ikut meramaikan fase ini.
Di Pangkalpinang, sekitar 31 kilometer dari Sungailiat, Willy Siswanto menginisiasi Festival Teater Pelajar se-Pulau Bangka pada pertengahan tahun 90-an. Festival digelar di Gedung Hamidah dengan 84 peserta tampil.
Panggung teater sekolah kala itu tak sekadar membentuk karakter remaja. Ia juga berfungsi sebagai alat pendidikan kritis yang menyemai wacana lingkungan dan kepekaan sosial.
Perantau Seni Pulang Kampung Usai Provinsi Berdiri
Pascaberdirinya Provinsi Kepulauan Bangka Belitung pada 2000, para perantau seni mulai kembali ke kampung halaman membawa etos dan metodologi baru. Joko Hari Purnomo (Wak Joko) mendirikan Sanggar Kampuseni di Mentok dan menggalang kolaborasi lintas elemen warga, salah satunya lewat garapan kolosal Opera Zamnah.
Di Sungailiat, Ira Esmeralda menghadirkan Teater Akar Rumput. Sementara di Pangkalpinang, Willy Siswanto mengeksplorasi gubahan sejarah lokal menjadi pementasan bernuansa sosial situasional. Mendiang Dr. (HC) Ibnu Hadjar memulai adaptasi teater tradisional Dulmuluk.
Rentang 2010–2019 memperlihatkan dinamika yang lebih berwarna. Ajang kompetisi pemerintah memicu lahirnya teater beridiom lokal Begisah pada 2015. Ruang eksperimental independen juga bermunculan.
Halaman Rumah Panggung di Mentok memulai kerja pendokumentasian folklore menjadi naskah drama dan monolog. Bubung Project mengusung genre komedi Melayu dan berkeliling dari kampung ke kampung. Kelompok Ira Esmeralda mengadaptasi struktur dulmuluk ke dalam narasi lokal Putri Zamnah.
Pandemi 2020 dan Lompatan Metodologis
Ketika pandemi menghantam pada 2020, teater Bangka tidak patah arah. Krisis itu justru memicu lompatan metodologis lewat media virtual dan jaringan nasional.
Lahir karya responsif seperti program Jejak Virtual Aktor hingga pertunjukan Wayang Strip. Para seniman mengolah isu harian masyarakat — dari dilema tokoh adat di tengah wabah hingga polemik vaksinasi — menjadi tontonan yang menggugah.
Pada 2024, berdirinya Pangkalpinang Art Laboratory (Partla) menandai pergeseran penting dalam dramaturgi teater Bangka. Praktik berbasis riset dan eksplorasi tubuh makin menguat.
Karya kontemporer seperti Hilang Daratan dan Tetangga Masuk ke Kamar Tidurku bukan lagi sekadar hiburan visual. Narasi "tetangga" yang merangsek masuk ke "kamar tidur" menjadi metafora atas ekspansi industrialisasi dan eksploitasi alam yang menggusur ruang hidup paling personal milik warga Bangka.
Estetika Melayu hingga Dramaturgi Ekologis
Beragam wajah teater tumbuh di Bangka: estetika tutur Melayu, keberpihakan pada teater kontekstual kerakyatan yang ramah panggung terbuka, eksperimentasi interdisiplin, serta dramaturgi ekologis yang tajam menyuarakan luka lingkungan.
Semua itu mewarnai perjalanan teater Bangka dari akhir tahun 80-an hingga sekarang. Teater di pulau ini tidak tumbuh di ruang hampa steril — ia lahir, bernapas, dan membentur realitas sosiologis masyarakat, termasuk merembes kritis pada trauma ekologis peninggalan panjang pertambangan.
Krisis kesenian daerah, dengan begitu, jarang bersumber dari matinya daya cipta seniman. Persoalannya lebih pada cara panggung dan para seniman diperlakukan: kerja kebudayaan yang dikerdilkan, ekosistem yang diabaikan, dan kesenian yang dijadikan sekadar ornamen acara seremonial.