KEPULAUAN BANGKA BELITUNG — Norwegia mengambil langkah tegas dengan memberlakukan larangan penggunaan generative AI untuk anak-anak di jenjang pendidikan dasar. Peraturan ini diumumkan langsung oleh Perdana Menteri Jonas Gahr Stoere dalam konferensi pers, dan akan mulai diterapkan pada tahun ajaran baru yang dimulai akhir Agustus 2025.
Siapa Saja yang Terdampak?
Larangan ini menyasar siswa kelas 1 hingga 7, atau anak-anak berusia 6 hingga 13 tahun. Untuk remaja usia 14-16 tahun, penggunaan generative AI tetap diperbolehkan namun harus dalam pengawasan guru. Sementara itu, siswa berusia 17 tahun ke atas didorong untuk menggunakan AI secara mandiri dan bertanggung jawab.
Alasan di balik kebijakan ini cukup jelas. Perdana Menteri Stoere menyatakan bahwa AI membuat anak-anak melewati tahapan penting dalam proses belajar. "Sekolah harus fokus mengajarkan cara membaca, menulis, dan berhitung," ujarnya dalam konferensi pers yang dikutip Reuters.
Bukan Langkah Pertama: Larangan Smartphone Terbukti Efektif
Kebijakan ini bukan aksi dadakan. Sejak 2024, Norwegia sudah melarang penggunaan smartphone di lingkungan sekolah. Hasilnya, tingkat perundungan menurun, nilai akademik meningkat, dan jumlah kunjungan ke psikolog untuk masalah kesehatan mental berkurang drastis. Dampak positif ini paling terasa pada siswi perempuan.
Negara ini juga berencana memperluas pembatasan ke ranah media sosial. Pemerintah akan mengajukan RUU ke parlemen pada akhir tahun ini yang melarang anak di bawah 16 tahun menggunakan platform media sosial—langkah serupa dengan kebijakan yang diterapkan Australia.
Gelombang Serupa Mulai Mengalir di AS
Di Amerika Serikat, gerakan membatasi akses anak terhadap AI chatbot juga mulai berjalan. Senat dan DPR tengah membahas rancangan undang-undang bernama Guidelines for User Age-verification and Responsible Dialogue Act (GUARD Act). RUU ini mewajibkan perusahaan AI menerapkan sistem verifikasi usia dan melarang penyediaan chatbot kepada anak di bawah umur.
RUU tersebut sudah lolos dari Komite Yudisial Senat AS, meski belum sampai pada tahap pemungutan suara. Menariknya, bahasa dalam RUU ini sempat dilunakkan. Awalnya, aturan menyasar hampir semua chatbot berbasis AI. Kini, cakupannya dipersempit hanya untuk "AI companions" atau chatbot yang dirancang sebagai teman virtual.
Celah Regulasi: Antara AI Companion dan Alat Pencari
Kritikus menilai penyempitan definisi ini bisa menjadi celah bagi perusahaan teknologi. Jika chatbot dianggap sebagai fitur "insidental" dari produk utama, mereka bisa lolos dari jerat regulasi. Misalnya, batas antara AI companion dan alat pencari yang kebetulan bisa diajak ngobrol 24 jam menjadi sangat tipis.
Produk seperti ChatGPT, Gemini, dan Copilot pun berpotensi dikecualikan dari aturan ini jika statusnya dianggap sebagai alat bantu, bukan teman virtual. Pertarungan regulasi AI untuk anak-anak masih panjang, dan Norwegia menjadi salah satu pionir yang mengambil sikap paling keras sejauh ini.