BELITUNG — Ribuan batang kelapa sawit milik pekebun di ujung utara Pulau Belitung akan ditebang dan diganti dengan bibit unggul bersertifikat. Peremajaan ini bukan sekadar penanaman ulang, melainkan upaya menyelamatkan ekonomi warga yang selama ini bergantung pada komoditas sawit namun dihantam rendahnya produktivitas lahan.
Kepala Bidang Perkebunan DKPP Kabupaten Belitung, Tenny Meireni, mengungkapkan program yang digarap bersama Koperasi Sawit Sumber Rejeki ini awalnya direncanakan mencakup area seluas 60,5 hektare. Namun, setelah verifikasi teknis di lapangan, angka tersebut dikoreksi menjadi 58,3 hektare yang dinyatakan siap untuk diremajakan.
Mengapa Kebun Sawit Rakyat Harus Diremajakan?
Usia tanaman menjadi faktor utama. Mayoritas kelapa sawit milik pekebun di lokasi tersebut telah berumur di atas 25 tahun. Secara teori, masa produktif sawit memang berakhir di usia seperempat abad, namun penurunan hasil sudah terasa jauh lebih awal.
"Secara teori, masa produktif kelapa sawit sampai usia 25 tahun, namun biasanya di atas 20 tahun produktivitasnya sudah turun drastis," kata Tenny dalam kegiatan di Desa Air Batu Buding, Senin.
Selain faktor umur, ada dua kriteria lain yang membuat lahan ini masuk daftar prioritas. Pertama, produktivitasnya yang rendah, yakni di bawah 10 ton TBS per hektare per tahun. Kedua, perkebunan tersebut diketahui tidak menggunakan benih unggul sejak awal penanaman.
Target Produksi dan Dampak bagi Petani
Peremajaan dilakukan dengan mengganti tanaman tua menggunakan benih unggul bersertifikat. Tenny memperkirakan, tanaman baru akan mulai menunjukkan hasil saat memasuki usia 2,5 hingga 3 tahun setelah masa tanam.
"Harapan dari kegiatan ini produktivitas sawit rakyat akan meningkat sehingga akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat tersebut ke depannya," ujarnya.
Pergantian bibit ini diyakini mampu mengubah nasib pekebun. Jika sebelumnya hasil panen anjlok karena bibit berkualitas buruk, kini dengan benih unggul, potensi produksi TBS per hektare bisa berlipat ganda. Peningkatan ini secara langsung akan menaikkan pendapatan petani yang menggantungkan hidup dari kebun sawit.
Sinergi Menuju Perkebunan Berkelanjutan
Keberhasilan program ini tidak lepas dari kerja sama semua pihak. Tenny menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan para pekebun yang tergabung dalam Koperasi Sawit Sumber Rejeki.
"Kami berharap dengan peremajaan kebun sawit ini nantinya kesejahteraan masyarakat meningkat," kata Tenny menambahkan.
Ia berharap proyek percontohan di Kecamatan Badau ini bisa menjadi model pengelolaan perkebunan kelapa sawit yang berkelanjutan dan berdaya saing di Kabupaten Belitung. Ke depan, pola serupa diharapkan dapat direplikasi di wilayah lain yang memiliki permasalahan serupa.