PANGKALPINANG — Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti mengumumkan program Sekolah Satu Atap akan difokuskan di pulau-pulau kecil berpenghuni di Kepulauan Babel. Langkah ini diambil untuk mengatasi kesenjangan akses dan mutu pendidikan yang masih terjadi di wilayah terpencil.
Apa Itu Sekolah Satu Atap dan Di Mana Dibangun?
Sekolah Satu Atap merupakan lembaga pendidikan terintegrasi yang menggabungkan jenjang TK, SD, SMP, hingga SMA dalam satu kawasan. Program ini menyasar daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) di Indonesia, termasuk pulau-pulau kecil di Bangka Belitung.
"Pengembangan Sekolah Satu Atap ini bisa dilakukan di pulau-pulau kecil berpenghuni di Provinsi Kepulauan Babel, agar anak-anak di pulau-pulau terpencil dan desa terpelosok ini mendapatkan akses pendidikan yang baik dan berkualitas," kata Mendikdasmen Abdul Mu'ti di Pangkalpinang, Kamis.
Mengapa Program Ini Mendesak?
Abdul Mu'ti menyebut masih banyak anak Indonesia yang belum memperoleh kesempatan belajar karena keterbatasan ekonomi, kondisi geografis, disabilitas, hingga faktor sosial dan budaya. Kesenjangan ini tidak hanya soal akses, tetapi juga mutu pendidikan.
"Masih banyak anak-anak yang belum memperoleh kesempatan belajar karena keterbatasan ekonomi, kondisi geografis, disabilitas, kemampuan intelektual, maupun faktor sosial dan budaya," ujar Mendikdasmen saat menghadiri Wisuda Ke-17 Universitas Muhammadiyah Babel.
Bagaimana Dampaknya bagi Warga Pulau Terpencil?
Kehadiran Sekolah Satu Atap diharapkan memangkas jarak tempuh anak-anak sekolah yang selama ini harus menyeberang atau berjalan jauh untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi. Dengan satu kawasan terpadu, siswa tak perlu lagi pindah sekolah ke pulau lain hanya karena tidak ada SMP atau SMA di kampungnya.
Program ini juga menjadi solusi bagi orang tua yang selama ini kesulitan mengakses pendidikan karena faktor geografis. Kemendikdasmen menargetkan sekolah ini bisa segera direalisasikan di titik-titik paling terpencil di Bangka Belitung.