KEPULAUAN BANGKA BELITUNG — Setiap orang tua pasti ingin memberikan yang terbaik untuk anaknya. Namun, tanpa disadari, beberapa sikap yang dianggap 'baik' dan protektif justru bisa menjadi sumber kecemasan bagi si kecil. Para psikolog mengingatkan bahwa ketidaknyamanan yang dirasakan orang dewasa sering kali lebih menonjol daripada tekanan yang sebenarnya dialami anak.
Alih-alih membantu, sikap-sikap ini bisa melemahkan rasa percaya diri dan membuat anak kesulitan menghadapi tantangan. Berikut tujuh di antaranya yang perlu Bunda waspadai.
1. Terlalu Sering Membantu Anak
Saat anak kesulitan mengikat tali sepatu atau membereskan mainan, refleks pertama Bunda mungkin ingin segera membantunya. Padahal, menurut psikolog Amy Kincaid Todey, menyelesaikan tugas yang sebenarnya mampu dilakukan anak dapat melemahkan rasa mampu dalam diri mereka.
Anak kehilangan kesempatan untuk membangun kepercayaan diri yang muncul ketika berhasil mengatasi tantangan sendiri. Biarkan mereka mencoba dan belajar dari kesalahan.
2. Selalu Menyelesaikan Masalah Anak
Melihat anak kesulitan memang berat. Namun, kebiasaan orang tua yang selalu turun tangan untuk menyelesaikan masalah anak justru memberi sinyal bahwa situasi yang mereka hadapi terlalu berat.
Dale Atkins menambahkan, seiring waktu, hal ini dapat melemahkan kepercayaan diri dan memperkuat keyakinan bahwa kecemasan itu berbahaya dan harus dihindari. Anak pun tidak belajar cara mengatasi masalahnya sendiri.
3. Tidak Melatih Emosi Anak
Memvalidasi emosi anak itu penting, tapi jika berlebihan dan dibarengi dengan penghindaran, justru bisa memperburuk kecemasan. Hal ini terutama rentan terjadi pada anak yang cenderung terus-menerus memikirkan sesuatu.
Todey menyarankan untuk mengajarkan anak kalimat seperti, "Aku takut, tetapi aku tetap bisa melakukannya." Memberikan contoh keberanian sesuai nilai keluarga sering kali lebih efektif daripada sekadar menenangkan.
4. Terlalu Banyak Mempersiapkan Kebutuhan Anak
Mengantar anak di hari pertama sekolah memang baik. Namun, jika Bunda terlalu memikirkan berbagai kemungkinan buruk bahkan sebelum sekolah dimulai, hal ini justru berbahaya.
"Bagi anak yang merasa cemas, persiapan yang berlebihan dapat memperbesar ketidakpastian. Alih-alih merasa siap, mereka justru dapat merasa kewalahan dan lebih berfokus pada apa saja yang mungkin salah," tutur Atkins.
5. Melindungi Anak dari Emosi Negatif
Mengalihkan perhatian anak dari kesedihan, misalnya saat hewan peliharaan mati, memang terlihat baik. Tapi, cara ini membuat anak kehilangan kesempatan untuk memproses perasaan seperti kesedihan dan mempelajari cara mengatasinya.
Psikolog Emily Guarnotta menjelaskan bahwa anak-anak sangat peka. Ketika mereka merasakan ada kesedihan di rumah tapi diberi tahu bahwa semua "baik-baik saja", mereka jadi bingung dan belajar bahwa emosi negatif terlalu menakutkan untuk dihadapi.
6. Memberikan Terlalu Banyak Pilihan
Memberi anak pilihan memang baik untuk melatih kemandirian. Namun, jika diterapkan secara berlebihan, hal ini bisa menumbuhkan kekhawatiran. Otak anak bisa kewalahan dan muncul kecemasan dalam mengambil keputusan karena merasa terbebani.
7. Menghindari Konflik Sepenuhnya
Menjaga suasana rumah tetap harmonis itu penting. Namun, menghindari konflik sepenuhnya dan tidak pernah menunjukkan emosi negatif di depan anak juga tidak sehat. Anak perlu belajar bahwa konflik adalah bagian normal dari kehidupan dan bisa diselesaikan dengan baik.
Intinya, keseimbangan adalah kunci. Berikan anak ruang untuk mencoba, gagal, dan bangkit kembali. Dengan begitu, mereka tumbuh menjadi pribadi yang tangguh dan percaya diri dalam menghadapi berbagai situasi.