BANGKA BELITUNG - Di tengah arus modernisasi dan produksi massal, naskah asli yang telah disusun redaksi mengungkap sebuah fakta penting: hanya segelintir pengrajin yang masih bertahan untuk menjaga warisan kain Cual. Sebuah studi dari Universitas Bangka Belitung pada 2024 secara spesifik menyoroti dua pengrajin yang masih hidup dan beroperasi di Kota Pangkalpinang, yaitu Cual Ishadi dan Cual Maslina. Keduanya menjadi titik temu antara sejarah panjang wastra lokal dan kebutuhan pasar yang terus berubah.
Sejarah Cual tidak bisa dilepaskan dari akar tradisi songket Palembang yang berkembang di Muntok, Bangka, pada sekitar abad ke-17. Profil resmi Provinsi Kepulauan Bangka Belitung mencatat beragam motif seperti kembang gajah, bunga Cina, naga bertarung, hingga burung hong sebagai identitas visualnya. Namun, perjalanan ini nyaris terputus saat produksi sempat berhenti cukup lama akibat kekurangan bahan baku pada periode Perang Dunia I. Kesadaran untuk menghidupkannya kembali baru muncul sekitar tahun 1990, ketika pemerintah daerah mulai mendorong pengembangan kerajinan ini, dengan estimasi sekitar 40 pengrajin yang tersebar di Bangka dan Belitung meski kapasitasnya masih terbatas.
Dua Pilar Pelestarian: Ishadi dan Maslina
Penelitian akademik tersebut mengidentifikasi dua nama sebagai pengrajin yang masih bertahan. Cual Ishadi, yang berdiri sejak 2000, tak hanya memproduksi tenun dan batik Cual, tapi juga batik Prada dan busana siap pakai. Keunikan Ishadi terletak pada penggunaan motif dari kain Cual kuno berusia lebih dari 200 tahun sebagai sumber inspirasi, yang kini tersimpan di Museum Kain Cual Ishadi. Di sisi lain, Cual Maslina memulai usaha keluarga sejak 1990 dan baru mengembangkan galeri serta tempat kerja pada 2003, menunjukkan bahwa bisnis wastra kerap tumbuh dari fase panjang dengan minat pasar yang rendah.
Selain keduanya, Galeri Destiani berdiri sejak 2015 di Jalan Adhyaksa No. 3, Pangkalpinang, didirikan oleh Dra. Catharina Kristiatmini (Nina Sarjulianto). Galeri ini fokus pada kelestarian Tenun Cual dan pengembangan motif tradisional seperti Bunga Ketuyut dan Lebah Pelawan, sekaligus mengembangkan produk fashion siap pakai agar tetap relevan.
Krisis Regenerasi dan Pertaruhan Pengetahuan Lokal
Studi 2024 itu juga menyebut regenerasi pengrajin sebagai salah satu penghambat utama keberlangsungan Cual, bersama persaingan produksi dan proses pembuatan. Pengetahuan menenun seperti memilih benang atau menjaga ketegangan kain bersifat praktis dan sulit dipindahkan lewat buku. Oleh karena itu, setiap pembelian produk asli, penghargaan terhadap harga yang wajar, serta dukungan terhadap pameran wastra menjadi kontribusi nyata untuk meregenerasi keahlian ini.
Membedah Teknik dan Harga di Lapangan
Sebelum membeli, pemahaman penting perlu dibangun: tenun Cual dibuat dengan proses penenunan (bisa memakai alat tenun bukan mesin), sementara batik Cual adalah hasil teknik membatik yang motifnya terinspirasi dari Cual. Perbedaan ini berdampak langsung pada harga. Profil produk Ishadi menunjukkan contoh harga yang krusial bagi konsumen: kain batik Cual dijual sekitar Rp450.000, sedangkan kain tenun gedogan tertentu bisa mencapai Rp3,5 juta hingga Rp4,25 juta, dan selendang tenun dihargai Rp250.000. Perbedaan mencolok ini wajar karena teknik, bahan, waktu, kompleksitas motif, hingga reputasi pengrajin sangat beragam—bukan sekadar perbedaan ukuran.
Dari Pangkalpinang ke Panggung Dunia
Produk Cual kini tidak lagi hanya berkutat pada kain tradisional. Kemeja, outer, dress, tas, hingga aksesori mulai dikembangkan untuk menjangkau konsumen yang belum siap membeli kain bernilai tinggi. Upaya membawa wastra ini ke pasar global juga tampak dari partisipasi dalam Inacraft 2025 serta promosi bisnis ke Kuala Lumpur pada Februari 2026, di mana Pemerintah Provinsi Babel melibatkan CV Media 46 dengan merek Ishadi Cual. Hal ini membuktikan tradisi bisa beradaptasi tanpa kehilangan identitas aslinya.
FAQ
Apa perbedaan batik Cual dan tenun Cual?
Tenun Cual dibuat dengan proses menenun, sedangkan batik Cual menggunakan teknik batik dengan motif yang mengambil inspirasi dari karakter Cual. Keduanya merupakan produk yang berbeda dari sisi teknik.
Di mana pengrajin Cual yang terkenal di Pangkalpinang?
Cual Ishadi dan Cual Maslina merupakan dua nama yang dikaji dalam penelitian Universitas Bangka Belitung mengenai keberlangsungan pengrajin Cual di era modern. Galeri Destiani juga menjadi salah satu pusat produksi dan promosi Tenun Cual di Pangkalpinang.
Mengapa harga tenun Cual mahal?
Harga dipengaruhi oleh teknik, bahan, kerumitan motif, waktu pengerjaan, dan karakter produk. Beberapa produk tenun Ishadi yang menggunakan alat tenun bukan mesin mempunyai harga jauh berbeda dari batik Cual pada katalog yang sama.
Pada akhirnya, Cual bertahan bukan karena tradisi membeku, melainkan karena kerja keras para pengrajin yang terus menenun di tengah zaman yang berubah. Setiap motif menyimpan jejak sejarah panjang Muntok dan Pangkalpinang, dan mengenal mereka adalah cara sederhana agar cerita wastra ini terus hidup di tengah masyarakat, bukan berakhir di museum.